Jalan Salib Katedral Jakarta: Para Pemain Rasakan Perjalanan Spiritual Mendalam

- Jumat, 03 April 2026 | 12:15 WIB
Jalan Salib Katedral Jakarta: Para Pemain Rasakan Perjalanan Spiritual Mendalam

Suasana hening di Gereja Katedral Jakarta pagi itu pecah oleh sebuah pertunjukan. Jalan Salib yang digelar pada Jumat Agung ini berbeda, menyita perhatian penuh jemaat. Ternyata, di balik lakon yang mereka perankan, para aktor ini menjalani perjalanan spiritual yang cukup mendalam.

Aaron Ajiguna, misalnya. Pria yang memerankan Yesus ini mengaku sampai harus berpuasa selama proses latihan. Bukan cuma itu.

“Saya sampai berapa kali harus melakukan puasa juga. Selama perjalanan menjalani peran ini, kalau sedang mengikuti misa, kadang saya sampai menangis juga,”

Ujarnya usai pertunjukan. Aaron merasa bisa meresapi, meski sekelibat, bagaimana perjalanan hidup Yesus pada masanya. “Kadang susah dijelaskan, tapi itu yang saya rasakan,” tambahnya. Baginya, ini pengalaman yang luar biasa.

Di sisi lain, ada Mikael yang mendapat peran sebagai Simon Petrus. Awalnya, ia sempat merasa berat.

“Pertama mungkin ada sedikit penolakan karena saya rasa perannya cukup kompleks,”

katanya. Adegan-adegannya mengambil kutipan langsung dari Kitab Suci, lalu diinterpretasi sutradara agar mudah dipahami umat. Butuh lima bulan baginya dan rekan-rekannya untuk berlatih. Hasilnya? Ia puas. Bisa menampilkan sisi kemanusiaan Petrus yang rapuh, sekaligus penyesalannya yang mendalam.

“Puji Tuhan, saya puas dengan hasilnya tadi,” ucap Mikael. “Kebahagiaan tersendiri karena tahun lalu saya berperan jadi Yusuf. Tahun ini tidak disangka menjadi tokoh utama.”

Menurutnya, Katedral Jakarta terus berinovasi. Setiap tahun, Jalan Salib ditampilkan dengan tema berbeda, dilihat dari sudut pandang tokoh yang berlainan.

Lalu, ada pula pengalaman Arya Setiawan. Ini sudah kali keduanya ia memerankan Yesus yang disalib, dan gejolak batinnya masih sama kuatnya.

“Saya juga bahkan mengalami gejolak batin karena kenapa saya lagi? Bahkan sampai tadi mau masuk ke babak saya, saya masih merasa benarkah Tuhan pakai aku seperti ini?”

ungkap Arya. Dari situ, ia justru menemukan makna baru dalam perjalanan spiritualnya. Sebuah pertanyaan yang justru menguatkan.

Hari itu, lebih dari sekadar pertunjukan. Bagi yang memerankan dan yang menyaksikan, rasanya seperti ikut mengikuti proses itu langkah demi langkah.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar