Ia pun menyampaikan apresiasi yang dalam. Umat Hindu di Palembang dan Sumsel, menurutnya, punya kontribusi nyata dalam merawat harmoni. Itu salah satu alasan mengapa daerah ini masih bisa mempertahankan predikat Zero Conflict.
"Bumi Sriwijaya ini sejak dulu dikenal dengan kerukunannya," lanjutnya, mencoba mengingatkan semua pihak.
"Mari kita terus bersinergi dengan Polri dan pemerintah daerah. Jika toleransi ini terus kita rawat, kita akan selalu bisa bersama-sama 'Nyago Bumi Sriwijaya, Aman Bae'."
Di sisi lain, acara itu sendiri adalah sebuah pertunjukan kerukunan. Sela-sela antara sambutan dan pengukuhan, diisi dengan suguhan kesenian yang memukau. Tari Panji Semirang, lalu Sekar Jagat, dan juga Tari Puspa Puja. Tak ketinggalan, Kajati Sumsel Ketut Sumedana yang hadir sebagai tokoh umat Hindu juga memberikan sambutan hangat.
Pada akhirnya, kehadiran para pemimpin daerah di malam itu mengirimkan sinyal yang kuat. Kolaborasi mereka bukan basa-basi. Itu adalah simbol komitmen nyata negara untuk merangkul semua golongan. Sebuah jaminan, bahwa kebebasan dan kenyamanan beribadah adalah hak semua warga, tanpa terkecuali. Malam itu di Palembang, pesannya terdengar jelas: kerukunan adalah tugas bersama.
Artikel Terkait
Bulog Pastikan Stok Beras Nasional Aman Capai 4,38 Juta Ton
Trump Pecat Jaksa Agung Pam Bondi, Gantikan dengan Mantan Pengacara Pribadi
Gubernur DKI Perketat Izin Perjalanan Dinas ASN, Banyak Permohonan Ditolak
Trump Klaim Tanggung Jawab atas Serangan Jembatan B1 di Iran, Ancam Kembalikan Iran ke Zaman Batu