Uni Eropa Siapkan Rencana Darurat Energi, Antisipasi Guncangan Pasokan Akibat Perang

- Kamis, 02 April 2026 | 08:40 WIB
Uni Eropa Siapkan Rencana Darurat Energi, Antisipasi Guncangan Pasokan Akibat Perang

Komisaris Energi Uni Eropa, Dan Jrgensen, mengungkapkan rencana darurat Eropa yang siap dijalankan. Rencana itu mencakup pembatasan tarif jaringan listrik dan juga pajak listrik. Intinya, langkah-langkah ini mirip dengan yang pernah diterapkan saat Rusia menginvasi Ukraina di tahun 2022 lalu. Kenapa? Karena durasi dan skala krisis energi kali ini masih sangat buram, susah ditebak.

Antisipasi pasokan terganggu bahkan setelah adanya perjanjian damai

Kala itu, sebagai respons atas invasi, Uni Eropa memberlakukan ambang batas harga untuk gas alam sekaligus memungut pajak keuntungan berlebih dari perusahaan-perusahaan energi. Nah, skema serupa bisa saja dihidupkan kembali.

Jrgensen sendiri punya pandangan yang cukup suram. Menurutnya, gangguan pada pasokan energi akan terus berlanjut. Bahkan jika perdamaian nanti tercapai, konsekuensinya tetap akan terasa. "Karena sebagian infrastruktur energi di wilayah tersebut telah hancur akibat perang Iran," jelasnya tanpa basa-basi.

Faktanya, gejolak sudah terlihat. Sejak perang antara AS-Israel dan Iran meletup akhir Februari lalu, harga gas alam di Eropa sudah melonjak lebih dari 70 persen. Memang, pasokan minyak mentah dan gas alam untuk Uni Eropa tidak langsung terpukul oleh penutupan Selat Hormuz. Sebagian besar sumber energi Eropa datang dari wilayah lain.

Tapi dalam jangka pendek, Brussels justru cemas dengan pasokan produk olahan minyak. Sebut saja kerosin dan solar. Timur Tengah selama ini menyuplai sekitar 15 persen kebutuhan kerosin Uni Eropa. Itu angka yang signifikan.

Sementara itu, dari seberang Atlantik, Presiden AS Donald Trump bersikap blak-blakan. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab untuk membuka kembali Selat Hormuz bukanlah urusan Amerika. "Tidak ada hubungannya dengan kami," ujarnya di Gedung Putih. Padahal, semua ini adalah konsekuensi dari perang yang dilancarkan Amerika dan Israel terhadap Iran.

Serangan terus berlanjut

Di lapangan, Iran tak berhenti melancarkan serangan. Sasaran mereka adalah negara-negara Teluk di sekitarnya. Di Kuwait, sebuah tangki bahan bakar di bandara internasionalnya dihantam serangan pesawat nir awak. Lalu, di perairan lepas pantai Qatar, sebuah kapal tanker menjadi target. Situasinya makin panas.

Teluk Persia itu kan lokasi penting. Di sanalah pelabuhan dan terminal pengiriman minyak dan gas global berdiri. Dari titik itulah, kapal-kapal mengangkut muatan menuju pasar dunia melalui Selat Hormuz yang legendaris itu. Dengan serangan-serangan terbaru ini, Iran hampir berhasil menghentikan lalu lintas pelayaran di selat yang sangat strategis tersebut.

Membuka Hormuz dengan paksa?

Lalu, apa solusinya? Menurut laporan Wall Street Journal, Uni Emirat Arab sedang berupaya membentuk koalisi. Mereka ingin menggandeng AS dan sekutunya untuk membuka Selat Hormuz secara paksa. Seorang perwakilan negara itu bercerita pada WSJ bahwa diplomat-diplomat Emirat sudah mendesak pemerintah Washington, plus kekuatan militer di Eropa dan Asia, untuk bertindak.

Uni Emirat Arab bahkan ingin Dewan Keamanan PNB mengeluarkan resolusi untuk menyetujui langkah ini. Tapi, operasi militer semacam itu jelas sangat rumit dan berbahaya. Iran bisa dengan mudah menyerang sasaran di selat itu dari darat. Kapal perang punya waktu yang sangat singkat untuk bereaksi di perairan sempit itu.

Editor: Redaksi MuriaNetwork


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar