Tanggung jawabnya luas sekali. Mulai dari memantau pelanggaran gencatan senjata di sepanjang Blue Line, menjamin kebebasan pergerakan pasukan PBB, hingga koordinasi langsung dengan tentara Lebanon. Mereka juga harus siap siaga melakukan operasi "sanitasi area" kalau ada laporan senjata ilegal. Intinya, unit inilah yang jadi ujung tombak respons cepat di wilayah rawan.
Di bawah komando Kapten Zulmi, unit ini juga punya tugas khusus melindungi warga sipil. Mereka harus melakukan pengintaian di area-area potensial konflik, memastikan jika ada darurat, bantuan bisa datang dengan cepat. Beban di pundaknya luar biasa.
Dan itulah yang membuat tragedi ini semakin menyayat. Insiden di Bani Hayyan terjadi justru ketika mereka sedang menjalankan salah satu fungsi intinya: mendukung elemen PBB lain. Mereka sedang memastikan "kebebasan bergerak" untuk rekan-rekan dari Spanyol.
Sebagai unit yang punya kemampuan evakuasi darurat, gugurnya sang komandan dalam misi menjemput jenazah adalah ironi yang getir. Sang penjaga perdamaian gugur saat sedang menjalankan tugas paling mulia: memastikan rekan seperjuangannya pulang dengan martabat.
Kini, kita tinggal mengenang pengorbanannya. Di balik seragam dan misi perdamaian PBB, ada darah dan keringkat prajurit Indonesia yang mengalir di tanah jauh. Gugur sebagai kusuma bangsa.
Artikel Terkait
Perbaikan Jalan di Rasuna Said Sebabkan Macet Parah Menuju Mampang Prapatan
Trump Ancam Serang Iran dalam Dua hingga Tiga Pekan ke Depan
Rupiah Menguat Tipis ke Rp16.982 per Dolar AS di Awal Perdagangan
Kebakaran SPBE di Bekasi Diduga Dipicu Kebocoran Gas dan Korsleting, 12 Orang Luka Bakar