Di Fakfak, tradisi ini punya nuansa tersendiri. Ia menjadi cermin kehidupan iman masyarakat Katolik Papua Barat yang kental dengan kebersamaan. Daun palma yang dibawa bukan sekadar hiasan. Itu simbol kemenangan, ya, tapi juga kerendahan hati meneladani Sang Raja yang masuk kota dengan tunggangan seekor keledai, bukan kuda perang yang megah.
Secara liturgis, perayaan ini diwarnai pembacaan kisah sengsara Tuhan. Dari sinilah umat diajak menyelami rangkaian peristiwa suci: pengkhianatan Yudas, Perjamuan Terakhir, pergumulan di Getsemani, hingga kematian di Kalvari. Tapi Pastor Alex mengingatkan, jangan berhenti di situ. Penderitaan bukan akhir cerita.
Pada intinya, Minggu Palma adalah momentum untuk refleksi. Saatnya mempersiapkan diri menyambut Tri Hari Suci Kamis Putih, Jumat Agung, dan Vigili Paskah. Melalui renungan ini, umat diajak meneladani kasih, pengorbanan, dan kerendahan hati Kristus dalam keseharian.
Dengan dimulainya Pekan Suci, Gereja seakan mengingatkan sebuah kebenaran abadi. Jalan keselamatan memang kerap melalui salib dan pengorbanan. Namun ujungnya selalu sama: kemenangan kehidupan, yang bersinar terang dalam kebangkitan.
Artikel Terkait
Veda Ega Pratama Gagal Finis di Moto3 AS Usai Insiden Highside
Kementerian Agama dan BMKG Siapkan 96 Titik Pantau Hilal Jelang Sidang Isbat
Pria Ditemukan Tewas dengan Luka Tajam di Pasar Malioboro Jambi
Perawat Lansia di Jepang Dapat Tanda Tangan Presiden Prabowo di Bandara Haneda