Lonjakan jumlah kendaraan listrik ini sendiri terjadi setelah Sri Lanka mencabut larangan impor kendaraan yang berlaku lima tahun, tepatnya pada Februari 2025. Sejak saat itu, lebih dari 10 persen kendaraan baru yang masuk ke negara itu adalah mobil listrik.
Namun begitu, tren positif ini datang di waktu yang sulit. Negeri itu sedang dilanda krisis energi, yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah. Dampaknya nyata: pemerintah sampai memberlakukan pembatasan bahan bakar dan sistem kerja empat hari dalam seminggu sejak 18 Maret lalu, semua untuk menghemat energi.
Presiden juga mengungkapkan kabar buruk. Negara mereka gagal mendapatkan dua pengiriman minyak mentah, masing-masing 90.000 ton, karena konflik yang sama. Sekarang, Sri Lanka sedang berupaya menjalin kerja sama dengan negara-negara sahabat, seperti India dan Rusia, untuk memenuhi kebutuhan energinya yang mendesak.
Dampak kebijakan penghematan ini langsung terasa di jalanan. Tanggal 18 Maret lalu, suasana Colombo terasa lengang. Lalu lintas sepi, sementara sekolah, kantor pemerintah, dan bank tutup untuk sementara. Sebuah pemandangan yang jarang terjadi di ibu kota yang biasanya ramai.
(UDA)
Artikel Terkait
Golkar Dukung Kebijakan Relaksasi Terukur Produksi Mineral ESDM
FIFA Perketat Aturan Penguluran Waktu Jelang Piala Dunia 2026
Pakar Ingatkan Pola Makan Pasca-Lebaran, Data BPJS Tunjukkan Lonjakan Biaya Layanan Ginjal
Lima Pejabat Aceh Barat Dituntut Total 14,5 Tahun Penjara dalam Kasus Korupsi Pajak Rp3,58 Miliar