Jakarta - Ramadan dan Lebaran sudah berlalu. Saatnya kita kembali memperhatikan kondisi tubuh, terutama kesehatan ginjal. Setelah sebulan penuh berpuasa dan diikuti momen silaturahmi yang kerap diisi dengan makanan dan minuman manis serta gurih, tubuh butuh penyesuaian lagi. Nah, momentum pasca-libur panjang ini justru jadi waktu yang tepat untuk mengembalikan pola hidup sehat.
Dr. Jonny, Sp.PD-KGH, dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi, mengingatkan kita semua. Kebiasaan selama Ramadan dan Lebaran, seperti konsumsi makanan tinggi garam dan minuman manis, bisa berdampak buruk pada ginjal kalau dibiarkan terus.
"Air putih harus kembali menjadi pilihan utama. Sementara konsumsi makanan tinggi garam dan minuman manis perlu dibatasi agar tidak membebani kerja ginjal,"
Begitu penjelasan dr. Jonny dalam keterangan tertulisnya, Jumat (27/3/2026).
Dia memaparkan, kebiasaan mengonsumsi gula dan garam berlebih itu bisa memicu tekanan darah dan gula darah naik. Kalau dibiarkan dalam jangka panjang, risikonya jelas: hipertensi dan diabetes. Dan kedua penyakit itu, seperti kita tahu, adalah penyebab utama penyakit ginjal kronis. Padahal, fungsi ginjal sangat vital: menyaring racun dan menjaga keseimbangan cairan tubuh. Kerjanya sangat bergantung pada kecukupan asupan cairan kita.
Data dari BPJS Kesehatan dalam lima tahun terakhir (2020-2025) cukup membuka mata. Tren peningkatan jumlah pasien ginjal terlihat signifikan. Jumlah pesertanya naik dari 290.017 jiwa di tahun 2020 menjadi hampir dua kali lipat, 582.771 jiwa, di tahun 2025. Kasus pelayanannya pun melonjak dari 5,63 juta menjadi 9,21 juta.
Biayanya? Tentu ikut membengkak. Dari Rp 5,72 triliun di awal periode, membesar menjadi Rp 10,35 triliun di tahun 2025. Kalau diakumulasi selama lima tahun itu, total biaya verifikasi untuk layanan penyakit ginjal mencapai angka fantastis: Rp 45,52 triliun.
Nah, kalau dilihat lebih detail, layanan cuci darah atau hemodialisis (HD) menyumbang porsi terbesar. Peserta HD naik dari 123.748 jiwa menjadi 211.753 jiwa dalam rentang waktu yang sama. Biaya verifikasinya melonjak tajam, dari Rp 6,92 triliun menjadi Rp 12,19 triliun. Jelas, ini jadi beban pembiayaan utama.
Artikel Terkait
PM Anwar Ibrahim Tiba di Jakarta, Bahas Dampak Konflik Asia Barat dengan Prabowo
Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts and Nevis di Laga Perdana FIFA Series 2026
Prabowo dan Anwar Bahas Stabilitas Global dalam Pertemuan Bilateral di Jakarta
Menkeu Pindahkan 200-300 Pegawai Anggaran ke DJP untuk Penuhi Kekurangan SDM