Kiai Said Aqil Usulkan NU Kembalikan Konsesi Tambang ke Pemerintah

- Minggu, 07 Desember 2025 | 08:40 WIB
Kiai Said Aqil Usulkan NU Kembalikan Konsesi Tambang ke Pemerintah

Usulan Kiai Said: Kembalikan Saja Konsesi Tambang Itu

Jombang – Dari Pesantren Tebuireng, suara itu muncul. Jelas dan tegas. Mustasyar PBNU, KH Said Aqil Siroj, punya usulan yang cukup mengejutkan banyak pihak: sebaiknya konsesi tambang yang dianugerahkan pemerintah kepada PBNU itu dikembalikan saja.

Ia menyampaikannya dalam acara silaturahim, Sabtu lalu. Awalnya, pemberian konsesi itu memang dilihat sebagai bentuk apresiasi negara. Sebuah peluang, katanya, untuk kemandirian ekonomi organisasi.

Tapi belakangan, situasinya berubah. Yang muncul justru perdebatan yang tak kunjung reda, baik di internal maupun di ruang publik. Tata kelolanya pun jadi bahan pembicaraan yang rumit.

“Saya sejak awal menghormati inisiatif pemerintah. Itu bentuk penghargaan yang baik,” ujar Kiai Said.

Namun begitu, ia tak menampik kenyataan yang ada di depan mata.

“Tetapi melihat apa yang terjadi belakangan ini, konflik semakin melebar, dan itu membawa madharat yang lebih besar daripada manfaatnya. Maka jalan terbaik adalah mengembalikannya kepada pemerintah,” tegasnya.

Poinnya sederhana: organisasi sebesar NU harusnya menjauhi hal-hal yang berpotensi memecah belah. Kegiatan yang berisiko tinggi, apalagi sampai menimbulkan persepsi buruk di masyarakat, sebaiknya dihindari. NU adalah rumah besar, tempat bernaungnya banyak orang. Jangan sampai terseret pada urusan yang justru menimbulkan kegaduhan dan mengaburkan khittah awal berdirinya.

Di sisi lain, Kiai Said yakin betul. Kemajuan warga NU sama sekali tidak bergantung pada proyek tambang semata. Ada banyak hal lain yang jauh lebih penting dan membawa berkah.

“Keberkahan NU itu dari ketulusan, dari amanah, dari keilmuan. Bukan dari proyek tambang,” katanya.

Ia lantas mendorong fokus pada hal-hal yang lebih substantif. Pendidikan pesantren, penguatan ekonomi kerakyatan, isu kesehatan, hingga digitalisasi layanan untuk umat. Itulah, menurutnya, jalan yang lebih tepat.

Usulan ini tentu akan jadi bahan perbincangan serius di internal. Tapi pesannya jelas: menjaga marwah organisasi kadang berarti berani memilih untuk melepaskan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar