Makassar lagi-lagi kota ini jadi tuan rumah ajang internasional. Namanya Chinese Bridge Competition, sebuah kompetisi yang tujuannya mendalami bahasa Mandarin dan budaya Tiongkok. Pesertanya bukan penutur asli, lho.
Acara ini digelar oleh Center for Language Education and Cooperation, kerja sama dengan Universitas Hasanuddin dan Stella Gracia School. Kompetisi ini kayak panggung buat pelajar dari berbagai jenjang dari SD sampai kuliah buat unjuk kebolehan bahasa Mandarin. Sekalian, ya, memperluas wawasan lintas budaya.
Lokasinya di gedung Stella Gracia School Building B. Pesertanya mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Yang diuji nggak cuma kemampuan linguistik. Ada juga pemahaman budaya, kreativitas, dan bagaimana mereka menyampaikan cerita. Pokoknya komprehensif.
Nah, Direktur Confucius Institute Unhas, Rosdiana Jubhari, kasih penjelasan. Katanya, Chinese Bridge ini jembatan budaya antara Indonesia dan Tiongkok.
“Chinese Bridge Competition adalah kegiatan yang dilakukan oleh Pusat Bahasa Mandarin, tujuannya menjembatani kegiatan kebahasaan dan kebudayaan antara Tiongkok dan Indonesia. Hari ini adalah tahap final setelah sebelumnya peserta melalui proses seleksi,” ujar Rosdiana.
Dia juga nambahin, peserta datang dari SMP, SMA, sampai universitas. Nanti yang menang bakal dikirim ke Jakarta. Kalau lolos lagi, mereka mewakili Indonesia ke Tiongkok. Bersaing sama negara lain.
“Peserta berasal dari SMP, SMA, hingga universitas. Nantinya pemenang akan dikirim ke Jakarta, dan jika lolos akan mewakili Indonesia ke Tiongkok untuk bersaing dengan negara lain,” kata Rosdiana, menambahkan.
Di samping sesi tanya jawab, peserta juga tampil dengan berbagai pertunjukan seni. Ada tarian tradisional, musik, sampai aksi kreatif yang mencerminkan kekayaan budaya Tiongkok. Penilaiannya menyeluruh: kemampuan bicara, pemahaman budaya, hingga performa di atas panggung. Semua dinilai.
Sementara itu, Ketua Yayasan Stella Gracia School, Ingrid Mattualy, menyatakan dukungannya. Menurut dia, kegiatan ini bagian dari kontribusi dunia pendidikan buat ningkatin kompetensi global siswa.
“Kami sebagai sekolah yang relatif baru di Makassar mendukung program ini. Kegiatan ini penting untuk mendorong pemahaman bahasa dan budaya Mandarin yang semakin relevan secara global,” ujarnya.
Dia juga menegaskan, kolaborasi antara institusi pendidikan dan pusat bahasa itu langkah strategis. Buat memperluas akses pembelajaran bahasa asing di Indonesia, katanya.
Di luar soal kompetisi, Chinese Bridge juga jadi ajang memperluas jejaring antar pelajar. Mendorong pemahaman lintas budaya di kalangan generasi muda. Harapannya, lewat kegiatan ini, lahir generasi yang nggak cuma unggul secara akademik. Tapi juga punya perspektif global. Siap menghadapi tantangan dunia internasional.
Artikel Terkait
Pemerintah Pertimbangkan Tutup Dapur MBG yang Terindikasi Jual Beli Titik
Pengusaha Muda Jadi Korban Pemerasan Oknum Pengacara, Tersangka Dilimpahkan ke Kejaksaan
Debit Air Irigasi di Cianjur Selatan Mulai Menyusut, Pasokan Dinilai Masih Cukup Hingga Akhir Musim Tanam
Kejagung Tetapkan Pengusaha Swasta Tersangka Baru Korupsi Program Makan Bergizi Gratis