Padahal, di Semenanjung Malaysia, harga bahan bakar jenis lain sudah ikut naik seiring kenaikan harga internasional sejak akhir Februari lalu. Kebijakan mempertahankan subsidi jelas punya konsekuensi berat.
Anggaran subsidi membengkak luar biasa. Beban bulanan pemerintah untuk bensin dan solar melonjak drastis, dari 700 juta ringgit jadi 3,2 miliar ringgit! Pembatasan kuota ini jelas upaya mengerem laju pengeluaran. Tujuannya ganda: menahan inflasi dan menjaga stabilitas anggaran negara yang mulai goyah.
Selain soal anggaran, ada tujuan lain. Pemerintah ingin memperketat pengawasan. Dengan kuota yang jelas, penyaluran BBM subsidi bisa lebih terkontrol dan tepat sasaran. Harapannya, pasokan bahan bakar tetap stabil untuk semua.
Untungnya, ada sedikit kabar baik di tengah situasi pelik ini. Cadangan minyak Malaysia dikabarkan masih aman, setidaknya hingga Mei 2026 mendatang. Itu memberi sedikit ruang bernapas untuk menyusun strategi jangka panjang.
Artikel Terkait
Herdman: Kemenangan di FIFA Series Bukan Harga Mati, Fondasi untuk 2030 Lebih Penting
Menteri ESDM Tegaskan Stok Energi Nasional Aman di Tengah Konflik Global
Wagub Kaltara Soroti Kondisi Jembatan dan RS Rusak di Perbatasan Apau Kayan
Spekulasi Hubungan Baru Pratama Arhan dengan Selebgram Inka Andestha