Perang di Iran terus memicu gejolak harga minyak dunia. Dampaknya, negara-negara yang bergantung pada impor mulai merasakan tekanan. Malaysia, misalnya, terpaksa mengambil langkah tegas. Pemerintahnya berencana memotong kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi untuk warganya.
Mulai 1 April 2026 nanti, kuota itu bakal dipangkas. Dari yang semula 300 liter per bulan, jadi cuma 200 liter per orang. Kalau ada yang boros dan konsumsinya melebihi batas, ya siap-siap bayar dengan harga pasar. Kabar ini dilaporkan Bloomberg, Kamis lalu.
Di sisi lain, harga RON95 yang tak disubsidi sudah lebih dulu melonjak. Sejak pertengahan Maret 2026, harganya naik cukup tajam, sekitar 45 persen. Ini jadi gambaran betapa kerasnya tekanan yang dihadapi.
Namun begitu, Perdana Menteri Anwar Ibrahim berusaha menepati janjinya. Dia bersikukuh mempertahankan harga RON95 bersubsidi di angka 1,99 ringgit per liter. Itu setara dengan kurang lebih Rp 8.423.
Artikel Terkait
Herdman: Kemenangan di FIFA Series Bukan Harga Mati, Fondasi untuk 2030 Lebih Penting
Menteri ESDM Tegaskan Stok Energi Nasional Aman di Tengah Konflik Global
Wagub Kaltara Soroti Kondisi Jembatan dan RS Rusak di Perbatasan Apau Kayan
Spekulasi Hubungan Baru Pratama Arhan dengan Selebgram Inka Andestha