Korban pun mulai berjatuhan. Militer Israel mengungkap satu tentaranya terluka parah akibat tembakan roket di Lebanon selatan. Sebelumnya, seorang perwira juga dilaporkan terluka ringan dalam baku tembak. Sementara itu, serangan roket ke arah Haifa, wilayah Israel utara, dikabarkan tidak menimbulkan korban luka.
Konflik ini sebenarnya sudah berlarut-larut. Lebanon terseret ke dalam perang setelah Hizbullah mulai menembakkan roket ke Israel awal Maret lalu. Aksi itu mereka sebut sebagai balasan atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Presiden Lebanon sudah mencoba mengajak negosiasi langsung dengan Israel, sebuah langkah yang belum pernah terjadi. Sayangnya, Israel sejauh ini menolak usul tersebut.
Naim Qassem, pemimpin Hizbullah, bersikukuh dengan pendiriannya. Bagi kelompoknya, duduk di meja perundingan di tengah gempuran musuh sama saja dengan menyerah.
"Ketika negosiasi dengan musuh Israel diusulkan di bawah serangan, ini adalah pemaksaan penyerahan diri," tegas Qassem.
Kekhawatiran akan eskalasi yang lebih besar pun muncul. Sekjen PBB Antonio Guterres mendesak kedua belah pihak untuk segera menghentikan tembakan. Ia secara khusus memperingatkan Israel agar tidak menerapkan "model Gaza" di Lebanon selatan, seperti yang sempat diwacanakan beberapa pejabat Israel. Peringatan itu bukan tanpa alasan, karena kekhawatiran terbesar adalah akan terjadinya pengungsian massal warga sipil jika situasi bertambah parah.
Suasana di perbatasan kini mencekam. Kedua pihak saling bersikukuh, dan jalan damai tampaknya masih sangat jauh dari kenyataan.
Artikel Terkait
Pemerintah Siapkan Kebijakan WFH Satu Hari untuk Hemat BBM
Bentrokan Dua Kampung Warna-i Festival Kuluwung di Jonggol
Australia Larang Sementara Kedatangan Warga Iran Terkait Konflik Timur Tengah
Enam Tim Berebut Dua Tiket Terakhir Piala Dunia 2026 Lewat Play-off