Jakarta - Di tengah ketegangan Perang Dingin, ada satu kasus pembunuhan yang hingga kini masih dikenang. Korban adalah Georgi Markov, seorang pembelot asal Bulgaria yang tewas akibat racun risin yang sangat mematikan.
Bagi rezim Komunis Bulgaria saat itu, Markov adalah duri dalam daging. Dia dikenal sebagai penulis naskah drama yang tak segan menyoroti kehidupan para elit partai dengan tulisan-tulisannya yang pedas. Tak heran, dia berkali-kali menjadi target. Namun, upaya untuk menyingkirkannya selalu gagal sampai akhirnya.
Nasib malang justru datang di tanah pengasingannya. Tanggal 11 September 1978, seperti biasa, Markov meninggalkan kantornya di Bush House, London. Cuaca mungkin biasa saja kala itu. Dia berjalan kaki melintasi Jembatan Waterloo yang ramai, menuju halte bus untuk naik kereta pulang ke rumahnya di Clapham.
Menurut sejumlah saksi, kejadiannya berlangsung cepat dan nyaris tak disadari. Saat antre di halte, Markov tiba-tiba merasakan tusukan tajam di bagian paha belakangnya. Dia menoleh dan melihat seorang pria terburu-buru memungut sebuah payung dari tanah, lalu meminta maaf dengan aksen asing sebelum menghilang di kerumunan.
Awalnya, Markov mengira itu hanya insiden kecil. Tapi rasa sakit itu berbeda. Beberapa jam kemudian, demam tinggi mulai menghampiri. Keadaannya memburuk dengan cepat. Hanya dalam empat hari, dia meninggal dunia di rumah sakit, membuat banyak pihak bertanya-tanya.
Artikel Terkait
Wakil Ketua MPR Ingatkan Pemerintah Soal Risiko Rencana Sekolah Daring untuk Hemat BBM
Kylian Mbappe Pulih Total, Siap Pacu Real Madrid di Sisa Musim
Puncak Arus Balik, Sistem Satu Arah Nasional Diterapkan dari Kalikangkung hingga Cikatama
Arus Balik Lebaran 2026 Macet Parah di Pertigaan Kalijaga Cirebon