Kini, kampung ini dihuni sekitar 6.750 jiwa dari beragam suku. Mata pencahariannya pun berkembang, tak lagi cuma nelayan, seiring dengan transformasinya jadi pusat wisata bahari.
Rahasia di Balik Cobek Tanah Liat
Wisata tak akan lengkap tanpa kuliner. Di Bontang Kuala, hidangan andalannya adalah Gammi Bawis.
"Kuliner andalan Bontang Kuala adalah Gammi Bawis," sebut Halimah.
Ikan bawis, spesies lokal, dibakar dengan sambal tomat, bawang, dan terasi yang harum. Disantap di rumah makan terapung sambil merasakan angin laut, rasanya benar-benar menggugah selera. Nasi satu piring seringkali terasa kurang!
Tapi yang bikin betah, mungkin, adalah kehidupan sosial warganya. Kohesi sosial mereka sangat kuat, dirawat lewat tradisi seperti Pesta Laut dan makala-kela makan bersama di pinggir pantai yang meruntuhkan sekat status sosial.
"Ada pula tradisi makala-kela, momen di mana seluruh warga makan bersama di pinggir pantai, meruntuhkan sekat-sekat status sosial," ujar Jafar.
Ritual-ritual seperti inilah yang memberi efek relaksasi tersendiri bagi pengunjung. Rasanya seperti pulang.
Melihat ke Depan dengan Keramba
Masyarakat di sini juga pikir panjang. Mereka sadar pariwisata bisa naik turun, hasil tangkapan laut pun fluktuatif. Maka, mereka membangun jaring pengaman ekonomi lewat budidaya keramba.
Sudah ada sekitar 30 petak keramba berukuran 3x3 meter, yang di dalamnya dibesarkan ikan kerapu, kakap merah, dan lainnya. Program didukung penuh dinas terkait ini adalah langkah cerdas menuju ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Mimpi mereka lebih jauh lagi. "Rencana ke depan adalah mengembangkan keramba apung ini menyatu dengan restoran apung," ungkap Jafar.
Nantinya, wisatawan bisa memilih dan menikmati ikan langsung dari keramba. Untuk berkeliling menikmati pemandangan laut, biayanya juga sangat terjangkau, cuma Rp10.000 per orang pakai kapal nelayan.
Di sisi pengelolaan, Halimah menegaskan komitmennya. "Program pengembangan kami tidak hanya soal promosi, tapi mencakup lingkungan hidup, pelestarian budaya, dan pengembangan koperasi pariwisata," tegasnya.
Intinya, kunjungan ke Bontang Kuala lebih dari sekadar cari spot foto untuk media sosial. Ini adalah perjalanan menyusuri waktu, merasakan ketahanan sebuah komunitas, dan menghormati laut yang telah memberi kehidupan. Di atas tiang kayu ulin yang kokoh itu, Bontang Kuala berdiri bukan hanya sebagai cikal bakal kota industri, tapi juga sebagai pelabuhan ketenangan bagi jiwa-jiwa yang lelah.
Artikel Terkait
Trump Klaim AS Berkomunikasi dengan Tokoh Kunci Iran untuk Akhiri Perang, Bukan dengan Pemimpin Tertinggi
Cuti Bersama Lebaran 2026 Berakhir, WFA Diperpanjang Tiga Hari
Lebaran di Pangandaran, Lebih dari 40 Anak Sempat Hilang dari Keluarga
Presiden Iran Tegaskan Jamin Keamanan Kapal di Selat Hormuz, Kecuali Milik AS dan Israel