Menariknya, Zolfaghari memberi penjelasan tentang situasi Selat Hormuz saat ini. Menurutnya, selat itu belum sepenuhnya ditutup, tapi berada di bawah pengawasan intelijen yang sangat ketat.
"Selat Hormuz hanya ditutup bagi musuh dan bagi yang melakukan perjalanan yang tak menguntungkan, dan hingga kini belum sepenuhnya ditutup,"
ujarnya. Jadi, bagi kapal yang dianggap tidak berbahaya, jalurnya masih aman sesuai aturan internasional dan tentu saja, kepentingan nasional Iran.
Di sisi lain, semua ini tidak datang tiba-tiba. Teheran menyebut aksi ini sebagai respons atas serangkaian agresi yang dilakukan pihak Zionis sejak akhir Februari 2026. Pesannya jelas: Iran tidak ingin memulai perang, tapi mereka merasa punya hak penuh untuk membela diri. Apalagi, kata mereka, di hadapan apa yang disebut sebagai 'Presiden teroris Amerika.'
Suasana tegang ini, sayangnya, belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kedua pihak seperti saling mengukur nyali, dengan risiko yang konsekuensinya bisa meluas ke seluruh Timur Tengah.
Artikel Terkait
Jadwal Salat Makassar 24 Maret 2026: Subuh 04.51 WITA, Isya 19.23 WITA
Pengelola Terapkan Sistem Buka-Tutup Rest Area KM 52B untuk Antisipasi Macet Jakarta-Cikampek
Rudal Iran Tembus Pertahanan Udara Israel di Dekat Fasilitas Nuklir Dimona
Rudal Iran Tembus Sistem Davids Sling, Lukai Puluhan di Israel Selatan