MEDAN - Suasana Lapangan Merdeka di Medan Barat tampak berbeda pagi itu. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo hadir langsung, meninjau Pos Pengamanan Mudik Lebaran 2026 yang berdiri di sana. Kedatangan mereka bukan sekadar seremonial. Tujuannya jelas: memastikan segala persiapan untuk arus mudik benar-benar matang, dari kesiapan personel hingga kelengkapan sarana di pos terpadu itu.
Menurut sejumlah saksi, kedua pimpinan tinggi itu tampak cermat mengamati setiap detail. Mereka berinteraksi dengan petugas, mengecek fasilitas yang tersedia.
“Kegiatan ini mencerminkan sinergi TNI, Polri, dan instansi terkait dalam penyelenggaraan pengamanan terpadu,” ujar Panglima TNI, Minggu (22/3/2026).
Memang, pos di Lapangan Merdeka ini bukan sembarang pos. Lokasinya strategis. Di titik inilah para pemudik bisa mendapatkan beragam layanan sekaligus: mulai dari pengamanan, pertolongan kesehatan, hingga informasi terkini seputar perjalanan. Fungsinya ganda, selain melayani juga menjadi mata untuk memantau dinamika lalu lintas pemudik yang melintasi Kota Medan.
Kehadiran langsung para pimpinan puncak tentu punya pesan tersendiri. Ini soal komitmen. Dengan aparat yang siaga di lapangan, diharapkan pengamanan mudik tahun ini bisa berjalan optimal, jauh dari kendala berarti.
“Kesiapan personel serta dukungan lintas sektor menjadi bagian penting dalam menciptakan kondisi yang aman, tertib, dan lancar bagi masyarakat selama periode Hari Raya Idul Fitri,” pungkas Jenderal Agus.
Pesan itu jelas. Sinergi di lapangan, kata mereka, adalah kunci utama. Agar setiap pemudik bisa pulang dengan tenang, dan kembali dengan selamat.
Artikel Terkait
Anggota DRI Kecam Penyekapan dan Penganiayaan Sadis Perempuan di Bandung Selama Tiga Tahun
PBNU Siapkan Ekosistem Inovasi Digital untuk Santri dan Kader Menuju NIAS 2026
Antrean Solar Bersubsidi di Makassar Kembali Picu Kemacetan, Warga dan Pengusaha Terdampak
Nadiem Makarim Ajukan Pembelaan Terakhir di Sidang Korupsi Pengadaan Chromebook, Sebut Tuntutan 18 Tahun Penjara Lebih Berat dari Hukuman Teroris