Suasana di Stadion Giuseppe Sinigaglia, Minggu malam itu, benar-benar meriah. Como 1907 baru saja menghajar Pisa dengan skor telak 5-0. Tapi di balik sorak-sorai suporter, ada nuansa lain yang terasa. Pelatih Cesc Fabregas, usai laga, justru bicara tentang seorang yang tak hadir secara fisik: mendiang Michael Bambang Hartono.
Bagi Fabregas, tiga poin ini jelas penting. Posisi empat klasemen dengan 57 poin membuat mimpi Liga Champions 2026-2027 semakin nyata. Namun begitu, target kompetisi itu bukanlah hal utama yang ia pikirkan malam itu.
"Hari ini adalah kemenangan yang penting karena kami telah kehilangan sosok penting bagi dunia Como," ujar Fabregas.
Ia lalu melanjutkan dengan nada yang lebih personal. Visinya tentang klub ini rupanya lebih dari sekadar papan klasemen.
"'Liga Champions' kami adalah soal nilai, bekerja dengan visi masa depan di dalam klub yang serius," sambung mantan gelandang Spanyol itu.
Di sisi lain, dedikasi kemenangan untuk keluarga Hartono terasa sangat tulus. Fabregas mungkin belum pernah bertatap muka langsung dengan almarhum, tapi ia paham betul betapa besar kontribusi sang taipan Indonesia bagi klub yang ia tangani sekarang. Tanpa mereka, semua ini mungkin takkan terwujud.
"Hari ini kami mengirimkan pelukan hangat kepada keluarga Hartono. Kemenangan hari ini menjadi lebih berarti karena hal tersebut," terangnya.
Michael Bambang Hartono meninggal dunia di Singapura pada 19 Maret 2026 lalu. Usianya 86 tahun. Kepergiannya tentu meninggalkan duka, tapi seperti yang diperlihatkan Fabregas dan skuadnya, juga menjadi pendorong semangat yang kuat. Lima gol tanpa balas itu, lebih dari sekadar angka, adalah sebuah penghormatan.
Artikel Terkait
Ibu Hamil Diminta Waspadai Skincare Abal-Abal yang Berisiko Cacat Janin
BSI Bagikan Dividen Rp1,51 Triliun, Setara Rp32,81 per Saham
Harga BBM Global Melonjak Akibat Ketegangan AS-Iran, Hong Kong Catatkan Harga Termahal Rp72.253 per Liter
Beckham Putra Percaya Diri Hadapi Persija, Kemenangan atas PSIM Jadi Modal Berharga Persib