Ancaman 48 jam dari Donald Trump terhadap Iran tak dibiarkan berlalu begitu saja. Teheran punya jawaban keras, dan mereka siap membalas dengan cara yang mereka sebut "mematikan". Juru bicara markas Khatam al-Anbiya, Ibrahim Zolfaghari, menegaskan hal itu sebagai respons atas ancaman Presiden AS untuk menyerang pembangkit listrik Iran.
Semuanya berawal dari unggahan Trump di Truth Social, Sabtu lalu. Isinya sederhana tapi penuh tensi: buka Selat Hormuz sepenuhnya untuk kapal AS dan sekutu, atau hadapi serangan udara yang akan meluluhlantakkan infrastruktur energi Iran. Tenggat waktunya singkat.
Nah, Zolfaghari kemudian membeberkan empat poin balasan strategis Iran. Intinya, jika Washington nekat menyerang, konsekuensinya bakal jauh lebih luas dari yang dibayangkan.
Pertama, Selat Hormuz akan ditutup total. Titik. Dan selat itu baru akan dibuka kembali setelah semua pembangkit listrik yang hancur dibangun ulang. Itu bukan proses yang singkat.
Kedua, seluruh infrastruktur energi dan teknologi informasi milik Israel akan jadi target serangan balasan. Ini jelas memperluas konflik secara geografis.
Langkah ketiga tak kalah keras: perusahaan-perusahaan di Timur Tengah yang punya saham dimiliki Amerika juga akan dihancurkan. Terakhir, pembangkit listrik di negara mana pun yang menampung pangkalan militer AS akan dianggap sebagai target militer sah. Ancaman ini, jika dijalankan, bakal mengobrak-abrik stabilitas kawasan.
Artikel Terkait
Jadwal Salat Makassar 24 Maret 2026: Subuh 04.51 WITA, Isya 19.23 WITA
Pengelola Terapkan Sistem Buka-Tutup Rest Area KM 52B untuk Antisipasi Macet Jakarta-Cikampek
Rudal Iran Tembus Pertahanan Udara Israel di Dekat Fasilitas Nuklir Dimona
Rudal Iran Tembus Sistem Davids Sling, Lukai Puluhan di Israel Selatan