Banjir dan Longsor di Sikka NTT Terdampakkan Hampir 13.000 Jiwa

- Senin, 23 Maret 2026 | 21:15 WIB
Banjir dan Longsor di Sikka NTT Terdampakkan Hampir 13.000 Jiwa

Oleh: Christhoper Natanael Raja


TVRINews, Sikka

Pasca Idulfitri, mobilitas masyarakat memang meningkat. Namun di sisi lain, ancaman bencana hidrometeorologi basah ternyata belum juga reda. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) baru saja merilis laporan pemantauan 24 jam, dari Minggu pagi hingga Senin pagi (22-23 Maret 2026). Dan situasinya cukup memprihatinkan.

Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, menjadi salah satu titik terparah. Banjir sudah melanda sejak Jumat sore, 20 Maret lalu. Pemicunya? Hujan dengan intensitas sedang sampai lebat yang mengguyur, terutama di kawasan Kecamatan Tanawawo. Akibatnya, Sungai Lowo Regi tak mampu lagi menahan debit air dan akhirnya meluap.

Dampaknya langsung terasa. Crossway Kali Lowo Regi di Desa Masebewa mengalami kerusakan cukup parah. Akses jalan antar desa pun terputus total. Bayangkan saja, warga yang hendak bepergian atau mengangkut logistik terpaksa berhenti di titik itu. Bahkan, untuk sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari, banyak yang nekat menyeberangi arus banjir dengan berjalan kaki tentu saja ini sangat berisiko.

Menurut data terbaru, bencana ini sudah menyentuh 10 desa. Sekitar 2.922 kepala keluarga atau setara dengan 12.981 jiwa merasakan dampaknya. Kerusakan properti juga terjadi. Dari ribuan rumah terdampak, satu unit dilaporkan rusak berat dan tiga lainnya rusak ringan.

Tapi kerugiannya tak cuma sampai situ. Sektor pertanian dan infrastruktur publik ikut kolaps. Ada 15 hektare lahan persawahan yang terendam. Bangunan penangkap air rusak, pipa distribusi air bersih putus, dan akses jalan di empat titik lainnya penuh dengan lubang. Situasi yang benar-benar menyulitkan.

“Kebutuhan mendesak saat ini meliputi bantuan logistik, air bersih, terpal, perbaikan darurat akses jalan, hingga perlengkapan dapur,”

demikian keterangan dari BPBD Kabupaten Sikka yang kini turun ke lapangan bersama instansi terkait untuk melakukan asesmen dan pendataan. Upaya penanganan sedang dipercepat.

Namun begitu, banjir bukan satu-satunya masalah. Di wilayah yang sama, ancaman tanah longsor masih membayangi. Peristiwa yang terjadi lebih awal, tepatnya Jumat dini hari 6 Maret lalu, itu masih dalam penanganan hingga Minggu (22 Maret). Longsoran menutup akses jalan penghubung Desa Poma dan Desa Napugera di Kecamatan Tanawawo.

Penyebabnya klasik: hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi panjang. Material tanah dan bebatuan menimbun badan jalan di dua titik, mengisolasi warga dan mengganggu aktivitas. Sebanyak 11 kepala keluarga terdampak, dengan rumah mereka dalam kondisi terancam. Saat ini, pembersihan material dilakukan bersama oleh BPBD, TNI/Polri, Dinas PUPR, relawan, dan masyarakat setempat.

Seluruh kejadian ini terjadi dalam periode Status Siaga Darurat Bencana di NTT yang masih berlaku hingga 8 Juni 2026 mendatang. Kondisinya memang rawan.

BNPB pun kembali mengingatkan. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, khususnya di wilayah dengan curah hujan tinggi. Pantau terus informasi cuaca, jaga kebersihan saluran air, dan yang paling penting jangan ragu untuk segera mengungsi ke tempat aman jika melihat tanda-tanda bahaya, seperti debit air yang naik cepat atau retakan di lereng bukit. Keselamatan tetap yang utama.


Editor: Redaktur TVRINews

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar