Di tengah hiruk-pikuk Los Angeles, ada sebuah bangunan bersejarah yang kini bersuara dengan dialek Indonesia. Masjid At-Thohir, begitulah namanya, telah menjelma lebih dari sekadar tempat shalat. Ia menjadi titik temu yang hangat bagi diaspora Indonesia, sekaligus pusat kegiatan sosial dan budaya yang merangkul komunitas sekitar.
Gagasan pendiriannya berawal dari sebuah kebutuhan yang sederhana: keterbatasan fasilitas ibadah yang nyaman bagi muslim Indonesia di kota itu. Garibaldi Boy Thohir dan keluarganya, melalui Yayasan Mochammad Thohir, kemudian mengambil peran. Mereka merenovasi sebuah gedung tua yang telah berdiri sejak era 1920-an. Hasilnya? Sebuah masjid seluas 650 meter persegi yang mampu menampung sekitar 250 jamaah, lengkap dengan sarana untuk edukasi dan dakwah, yang akhirnya diresmikan pada Maret 2022.
Boy Thohir sendiri punya harapan yang jelas tentang peran tempat ini.
“Masjid ini kami harapkan tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan yang membawa kedamaian dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” ujarnya pada Maret 2026.
Harapan itu tak berhenti di kata-kata. Menurut sejumlah saksi, masjid ini benar-benar hidup dengan berbagai aktivitas. Pada 2025 misalnya, mereka menggelar program berbagi bingkisan untuk warga sekitar. Ini bukan sekadar bagi-bagi parcel, tapi lebih pada upaya membangun jembatan silaturahmi lintas komunitas.
Artikel Terkait
Trump Klaim Buka Dialog dengan Tokoh Iran, Ancam Lanjutkan Serangan Bom
Polri Prediksi Dua Gelombang Puncak Arus Balik Lebaran, One Way Nasional Diberlakukan
KPK Alihkan Status Tahanan Yaqut Cholil Qoumas dari Rumah ke Rutan
Mantan Menag Yaqut Jalani Tes Kesehatan Sebelum Masuk Rutan KPK