Sebagai respons, IEA dikabarkan sedang berkoordinasi dengan sejumlah negara produsen seperti Kanada dan Meksiko. Tujuannya, mendorong peningkatan produksi minyak untuk menjaga stabilitas pasokan.
Namun begitu, masalahnya bertambah. Ekspor gas alam cair (LNG) dari Qatar juga terganggu akibat serangan yang menargetkan infrastruktur energi. Australia mungkin bisa menambah pasokan, tapi menurut Birol, kontribusi mereka belum akan cukup untuk menutupi kekurangan dari Timur Tengah.
Sebelumnya, IEA sebenarnya sudah bertindak. Mereka melepas cadangan minyak strategis sebesar 400 juta barel untuk meredakan tekanan pasar. Tapi langkah itu diakui hanya bersifat sementara.
"Pelepasan cadangan dapat membantu menstabilkan pasar, tetapi bukan solusi jangka panjang," tegas Birol, seperti dilansir The Arab Weekly.
Data terbaru IEA mencatat sedikitnya 44 aset energi di sembilan negara sudah rusak berat. Jika keadaan terus memburuk, skenario terburuk bisa terjadi. Kebijakan penghematan energi hingga penjatahan mirip yang diterapkan saat pandemi COVID-19 berpotensi diberlakukan kembali. Negara-negara berkembang, yang paling rentan terhadap lonjakan harga, akan merasakan dampaknya paling keras.
Semuanya bergantung pada langkah-langkah selanjutnya di lapangan. Dan waktu terus berjalan.
Artikel Terkait
Trump Klaim Buka Dialog dengan Tokoh Iran, Ancam Lanjutkan Serangan Bom
Paus Leo XIV Serukan Penghentian Segala Permusuhan, Sebut Perang Modern sebagai Skandal
Polri Prediksi Dua Gelombang Puncak Arus Balik Lebaran, One Way Nasional Diberlakukan
KPK Alihkan Status Tahanan Yaqut Cholil Qoumas dari Rumah ke Rutan