Proses belajar mengajar di tiga provinsi Sumatera yang sempat porak-poranda akibat bencana, akhirnya bisa kembali berjalan sepenuhnya. Kabar baik ini datang langsung dari Kasatgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian. Menurutnya, kondisi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sudah pulih 100 persen, berkat kerja keras berbagai pihak.
“Saya mengucapkan terima kasih banyak atas nama Satgas dan juga atas nama Dewan Pengarah karena kerja keras Bapak Ibu sekalian,” ujar Tito.
Pernyataan itu disampaikannya dalam sebuah rapat koordinasi di Jakarta, Senin lalu. Ia menekankan, pemulihan sekolah adalah prioritas utama. Soalnya, ini menyangkut masa depan anak-anak di daerah terdampak.
Memang, laporan Satgas menyebut seluruh kegiatan belajar sudah aktif lagi. Tapi jangan salah, sekitar 3 persen di antaranya masih terpaksa memakai ruang kelas darurat. Sarana dan prasarana pascabencana memang belum ideal sepenuhnya.
Di sisi lain, bukan cuma sekolah yang mulai bangkit. Tito memastikan roda pemerintahan dan pelayanan publik di daerah-daerah itu, termasuk di Kabupaten Aceh Tamiang, sudah kembali normal. Layanan kesehatan juga menunjukkan tren positif.
Dari 87 rumah sakit daerah yang terdampak, yang sempat ada 9 tutup, kini semuanya sudah beroperasi lagi. Untuk puskesmas, dari 867 yang kena imbas, tinggal dua yang masih menempati lokasi sementara. Selebihnya berjalan seperti biasa.
Perbaikan infrastruktur dasar pun terlihat nyata. Listrik, misalnya. Di Aceh, kurang dari 1 persen wilayah yang masih gelap. Sumut sudah 99 persen terang, sementara Sumbar mencapai 100 persen. SPBU di ketiga provinsi juga sudah buka semua. Pasokan BBM dan gas LPG relatif stabil, begitu pula jaringan internet. Menurut Tito, menjaga konsistensi pasokan ini krusial untuk mendukung aktivitas warga.
Geliat ekonomi mulai terasa. Pasar di Sumbar dan Sumut sudah berdenyut 100 persen. Di Aceh, baru sekitar 65 persen yang beroperasi. Sisanya masih dalam proses, tapi perlahan pasti akan menyusul.
Namun begitu, Tito mengakui masih ada pekerjaan rumah yang menanti. Beberapa ruas jalan di tingkat provinsi hingga desa belum pulih total. Beberapa jembatan masih bersifat sementara, dan normalisasi sungai di sejumlah titik masih perlu perhatian serius.
Untuk memastikan semua berjalan lancar, Kemendagri membentuk posko pemantauan.
“Ada posko di sini yang monitor, pos komandonya di Kemendagri, dan ada satu posko lagi di Aceh. Meskipun di Sumatera Utara, di Medan, Sumatera Barat juga mereka membentuk posko tingkat provinsi,” tambahnya.
Intinya, seluruh upaya ini dikerjakan secara terpadu. Tujuannya satu: agar rehabilitasi dan rekonstruksi, terutama di bidang pendidikan dan pelayanan publik, benar-benar efektif dan berkelanjutan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu