Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi yang baru saja menghadiri pertemuan puncak dengan AS di Washington, Kamis lalu, mengakui keunggulan teknologinya. “Teknologi penyapu ranjau Jepang berada di tingkat teratas di dunia,” katanya.
“Katakanlah gencatan senjata terjadi, dan jika ranjau menjadi penghalang, kita mungkin perlu mempertimbangkannya,” lanjut Motegi, merujuk pada potensi pengerahan SDF.
Meski demikian, Motegi berusaha meredam spekulasi. Ia menegaskan bahwa dalam pertemuan dengan AS, “tidak ada janji khusus” yang dibuat. Saat ini, katanya, tidak ada masalah yang memerlukan pertimbangan lebih lanjut di Tokyo.
Latar belakang dari semua ini adalah serangkaian serangan yang dimulai sejak akhir Februari. Serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu dibalas Teheran dengan drone dan rudal, yang berulang kali menyasar Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS.
Kepentingan Jepang di kawasan ini sangat nyata. Negeri Sakura itu mengimpor sekitar 90 persen minyak mentahnya dari Timur Tengah. Dan sebagian besar dari minyak itu harus melewati jalur sempit Selat Hormuz, membuat keamanan di sana menjadi urat nadi bagi perekonomian Jepang.
Artikel Terkait
Polri Prediksi Dua Gelombang Puncak Arus Balik Lebaran, One Way Nasional Diberlakukan
KPK Alihkan Status Tahanan Yaqut Cholil Qoumas dari Rumah ke Rutan
Mantan Menag Yaqut Jalani Tes Kesehatan Sebelum Masuk Rutan KPK
Warga Irak Jadi Tersangka Pembunuhan Cucu Mpok Nori, Status Keimigrasian Diselidiki