Di sudut rumahnya yang sederhana, warung kecil itu masih setia dibuka. Mas Amah, 78 tahun, dengan telaten menata dagangannya. Jajanan digantung rapi, beras dan telur ditata di rak kayu yang sudah usang. Tangannya yang mulai renta tak pernah berhenti, melayani pembeli sambil memastikan dapur di belakang tetap mengepul.
Bagi Mas Amah, ini lebih dari sekadar rutinitas. Ini soal bertahan hidup. Semua dilakukannya demi sang cucu, Rendi Pratama.
Hidup mereka berubah total saat Rendi baru menginjak lima tahun. Kedua orang tuanya meninggal dunia, meninggalkan luka dan satu pertanyaan besar: bagaimana melanjutkan? Sejak saat itu, nenek tua ini menjadi segalanya. Dia pengganti ayah-ibu, sekaligus tulang punggung satu-satunya bagi keluarga yang tersisa.
Kini Rendi sudah kelas 3 SMP. Setiap pagi dia berangkat sekolah dengan seragam yang mungkin sudah agak lusuh, tapi dengan tekad yang tak pernah pudar. Harapannya cuma satu: masa depan yang lebih baik. Dan di balik setiap langkahnya, ada sosok nenek yang terus berjuang dalam diam.
Namun begitu, perjuangan mereka tidak sendirian. Upaya Mas Amah akhirnya mendapat perhatian dari Sentra Wyata Guna Bandung, sebuah unit pelayanan di bawah Kementerian Sosial. Mereka memberikan dukungan rehabilitasi sosial untuk lansia, termasuk bantuan kewirausahaan. Intinya sederhana: menguatkan usaha kecilnya agar Mas Amah tetap produktif dan punya kemandirian di usia senja.
Artikel Terkait
Gary Pallister: Carrick Layak Dipermanenkan Jika Bawa MU ke Liga Champions
Polisi Intensifkan Patroli di Permukiman Sepi Cengkareng Cegah Pencurian Saat Mudik
Arus Balik Lebaran 2026 Memuncak, 285 Ribu Kendaraan Diproyeksi Masuk Jabodetabek
Arus Mudik Lebaran 2026 Melonjak 130% di Gerbang Tol Cikampek Utama