Dini hari di Pelabuhan Samarinda, Minggu kemarin, pemandangannya tak biasa. Bukan hanya aktivitas bongkar muat yang biasa terlihat, melainkan hamparan orang-orang yang tertidur lelap di lantai. Mereka adalah ratusan pemudik, dengan satu tekad: pulang kampung untuk Lebaran. Rasa lelah sepertinya kalah oleh semangat untuk sampai di rumah. Mayoritas datang dari luar kota, dan kekhawatiran tertinggal kapal menuju Parepare, Sulsel, membuat mereka memilih menginap di ruang terbuka pelabuhan dengan alas seadanya.
“Kami datang lebih cepat agar tidak ketinggalan kapal,” ujar Indra, suaranya terdengar lirih di tengah kerumunan.
Dia melanjutkan, “Lebih baik menunggu di sini daripada risiko terlambat karena perjalanan jauh.” Logikanya sederhana, tapi tegas. Jarak tempuh yang panjang dari daerah asal ke Samarinda menjadi pertimbangan utama. Daripada ambil risiko macet atau halangan lain di perjalanan, bermalam di pelabuhan dianggap jaminan untuk bisa naik kapal tepat waktu.
Penumpang lain, Adi, mengaku kondisi kali ini berbeda. Biasanya, kata dia, penumpang bisa langsung naik ke geladak kapal untuk menunggu. Namun sekarang, mereka harus rela tertahan di halaman.
Lantas, apa sebabnya? Kondisi memprihatinkan ini akhirnya mendapat perhatian pihak KSOP Kelas II Samarinda. Menurut mereka, ada aturan baku yang harus diikuti.
Rona, Kabid Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan, menjelaskan bahwa masyarakat yang baru datang tak bisa serta merta langsung naik. “Penumpang harus menunggu jadwal yang ditentukan sampai kapal siap untuk diberangkatkan,” katanya.
Alasannya terkait prosedur. “Ini demi keamanan dan ketertiban di atas kapal selama proses persiapan,” tambah Rona, merujuk pada waktu sterilisasi dan embarkasi yang harus dilalui.
Namun begitu, imbauan resmi tampaknya tak menghentikan gelombang pemudik. Arus penumpang tujuan Sulawesi Selatan diprediksi akan terus membengkak seiring makin dekatnya hari raya. Di tengah situasi yang serba darurat ini, pihak pelabuhan hanya bisa mengingatkan para penumpang untuk menjaga kesehatan dan mengamankan barang bawaannya masing-masing. Semoga saja perjuangan mereka di tanah rantau berbuah kebahagiaan di kampung halaman.
Artikel Terkait
Ratusan Warga Takalar Rusak Pagar Kantor Bupati, Tolak Pembangunan Kawasan Industri Laikang
Tabrakan Kereta di Bekasi Tewaskan 14 Orang, Mahadewi Desak Evaluasi Sistem Keselamatan yang Sensitif Gender
15 Perempuan Tewas di Gerbong Khusus Wanita yang Hancur Akibat Tabrakan Kereta di Bekasi Timur
Kemenhub Gelar Sidak ke Pool Green SM di Bekasi Usai Kecelakaan KRL, Temukan Sejumlah Pelanggaran Keselamatan