Pesan itu sepertinya menyentuh. Intinya jelas: Idulfitri adalah sarana untuk mempererat hubungan antar sesama, sekaligus meneguhkan iman dan takwa setelah sebulan penuh berpuasa.
Usai salat, pemandangan yang paling menyentuh justru terjadi di halaman masjid. Suasana hangat langsung terasa. Saling berjabat tangan, pelukan, dan permintaan maaf mewarnai interaksi antar jamaah. Rupanya, nilai-nilai persatuan dan keharmonisan yang jadi inti Lebagan benar-benar hidup di sana.
Di sisi lain, kegiatan keagamaan seperti ini diharapkan bisa jadi penjaga semangat. Semangat Ramadan yang penuh ketakwaan itu diinginkan agar tetap menjadi landasan moral bagi seluruh personel Lanud. Agar mereka bisa menjalankan tugas dengan profesional, loyal, dan tentu saja, penuh tanggung jawab.
Hari itu, di Makassar, kemenangan terasa lebih dekat dengan rasa syukur dan kebersamaan.
Artikel Terkait
Konfrontasi AS-Israel-Iran Ubah Peta Persepsi dan Kekuatan di Timur Tengah
Presiden Prabowo Manfaatkan Idulfitri untuk Telepon Sejumlah Pemimpin Negara Muslim
Prabowo Targetkan 300.000 Sekolah Direnovasi dan Digitalisasi Penuh dalam 5 Tahun
Diaspora Indonesia di Swedia Rayakan Idulfitri Sederhana di Tengah Inflasi Tinggi