Diaspora Indonesia di Swedia Rayakan Idulfitri Sederhana di Tengah Inflasi Tinggi

- Minggu, 22 Maret 2026 | 22:45 WIB
Diaspora Indonesia di Swedia Rayakan Idulfitri Sederhana di Tengah Inflasi Tinggi

Suasana hangat Idulfitri ternyata bisa dirasakan hingga di negeri dingin Swedia. Ratusan diaspora Indonesia berkumpul di Husby, Stockholm utara, merayakan hari raya dengan penuh kebersamaan. Meski sederhana, acara ini jadi bukti bahwa semangat Lebaran tak padam oleh tingginya tekanan inflasi di Eropa.

Acara khidmat ini digagas oleh komunitas pengajian Al Ikhlas bersama KBRI Stockholm. Ruang serba guna yang dipakai penuh sesak. Lebih dari dua ratus orang hadir keluarga muda, pelajar, hingga pekerja semuanya memadati tempat untuk salat Id berjamaah dan takbiran.

Ketua Komunitas Al Ikhlas Stockholm, Edo Widiyadi, mengakui tahun ini penuh tantangan.

"Biaya konsumsi melonjak karena inflasi di sini bisa mencapai 10-15 persen. Anggaran membengkak, tapi alhamdulillah kami tetap bisa menyediakan sekitar 320 paket hidangan tradisional untuk jemaah. Ini pengobat rindu kampung halaman," ujar Edo.

Duta Besar RI untuk Swedia, Yayan Ganda Hayat Mulyana, tampak terkesan.

"Kami merasakan kehangatan keluarga yang sangat kuat. Merayakan Idulfitri dalam kesederhanaan dan ketakwaan di sini memberikan kesan mendalam," tuturnya.

Perjalanan Panjang untuk Sebuah Kebersamaan

Bagi mereka yang tinggal di luar negeri, Lebaran sering berarti mencari ‘keluarga baru’. Banyak diaspora di kota-kota kecil Swedia rela menempuh perjalanan ratusan kilometer demi bisa sampai ke Stockholm. Ambil contoh Alivia. Dia berangkat naik kereta pukul lima pagi dari Arblom, menempuh perjalanan tiga setengah jam.

Tak hanya dia. Yassirullah, diaspora lain di Stockholm, punya cerita serupa.

"Di kota kecil, komunitas Indonesia nyaris tidak ada. Jadi datang ke Stockholm itu rasanya seperti mudik beneran. Meski harus pakai tabungan soalnya biaya transportasi buat pelajar itu nggak murah tapi kebersamaan ini sangat berharga," ungkapnya.

Selain soal biaya, urusan administrasi dan logistik juga bikin banyak orang memilih bertahan. Risma, salah satu diaspora di Swedia, bilang jadwal libur sekolah anak dan ketidakpastian penerbangan jadi pertimbangan besar.

"Kita nggak bisa izinin anak bolos sekolah lebih dari dua minggu. Belum lagi banyak berita soal pembatalan penerbangan karena kendala teknis atau blokade jalur udara. Jadi, menetap di Swedia aja pilihan paling realistis tahun ini," jelas Risma.

Begitulah. Meski jauh dari tanah air, berbagai keterbatasan itu ternyata tak mengikis makna Lebaran. Tradisi tetap dijaga, tali persaudaraan justru makin dikencangkan di perantauan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar