Prancis Juara Piala Dunia 2018 Usai Kalahkan Kroasia 4-2, Luka Modrić Raih Golden Ball

- Minggu, 21 Juni 2026 | 17:00 WIB
Prancis Juara Piala Dunia 2018 Usai Kalahkan Kroasia 4-2, Luka Modrić Raih Golden Ball

Piala Dunia 2018 di Rusia menjadi ajang yang membalikkan banyak prediksi, di mana status sebagai tim unggulan tidak lagi menjamin kelancaran langkah. Jerman, yang datang sebagai juara bertahan, harus tersingkir lebih awal di fase grup. Spanyol dan Argentina pun bernasib sama, gugur di babak 16 besar. Namun, di tengah hiruk-pikuk kejutan tersebut, satu narasi mampu merebut perhatian dunia: kisah heroik Kroasia, negara kecil berpenduduk hanya empat juta jiwa, yang datang bukan sekadar sebagai peserta, melainkan untuk memberikan pelajaran tentang kegigihan, pengorbanan, dan ketangguhan mental.

Perjalanan Kroasia di fase gugur menjadi gambaran paling ekstrem dari perjuangan fisik dalam sejarah Piala Dunia modern. Di bawah komando kapten sekaligus motor permainan, Luka Modrić, tim berjersey kotak-kotak merah-putih itu harus menempuh jalan terjal yang menguras habis tenaga. Mereka mencatat rekor sebagai tim pertama yang bermain hingga babak perpanjangan waktu dalam tiga pertandingan berturut-turut di fase gugur dan tetap keluar sebagai pemenang. Dua kali mereka menang melalui adu penalti, yakni 3-2 melawan Denmark di babak 16 besar dan 4-3 atas tuan rumah Rusia di perempat final. Sementara itu, kemenangan dramatis 2-1 atas Inggris di semifinal baru dipastikan setelah laga memasuki babak extra time.

Secara matematis, sebelum menginjakkan kaki di partai final, skuad Kroasia telah bermain selama 360 menit di fase gugur. Akumulasi waktu itu setara dengan satu pertandingan penuh tambahan dibandingkan calon lawan mereka, Prancis. Ditambah dengan cedera otot yang dialami sejumlah pemain, Kroasia berhasil memikat hati miliaran penonton karena mereka menolak menyerah pada rasa lelah demi membawa nama negaranya ke puncak dunia.

Di sisi lain bagan turnamen, Prancis melaju dengan pendekatan yang sangat tenang, dingin, dan penuh perhitungan di bawah asuhan pelatih Didier Deschamps. Jika Kroasia menjadi simbol romantisme perjuangan, maka Prancis adalah representasi mesin industri sepak bola modern yang sempurna: kokoh di lini belakang berkat Raphael Varane, dinamis di tengah berkat N'Golo Kante dan Paul Pogba, serta mematikan di lini depan. Edisi 2018 juga menjadi panggung penobatan bagi remaja ajaib berusia 19 tahun, Kylian Mbappé. Pada babak 16 besar melawan Argentina, ia mencatatkan rekor kecepatan lari hingga 38 km per jam dari tengah lapangan, membelah pertahanan lawan sebelum akhirnya diganjar penalti. Dalam laga yang berakhir 4-3 itu, Mbappé mencetak dua gol, menjadikannya remaja pertama yang mampu melakukannya dalam satu pertandingan Piala Dunia sejak Pelé pada 1958. Kecepatan Mbappé memberikan dimensi baru bagi taktik serangan balik Prancis yang sulit dibendung tim mana pun sepanjang turnamen.

Laga final yang digelar di Stadion Luzhniki, Moskow, menyuguhkan salah satu partai puncak paling menghibur dan kaya gol di era modern. Kroasia yang kelelahan tetap bermain terbuka dan berani menekan Prancis sejak menit pertama. Namun, efektivitas taktis dan kondisi fisik yang lebih bugar akhirnya menjadi pembeda. Prancis memimpin lebih dulu lewat gol bunuh diri Mario Mandžukić dan penalti Antoine Griezmann setelah tinjauan VAR. Ivan Perišić sempat menyamakan skor menjadi 1-1 melalui tembakan keras. Di babak kedua, Prancis menghukum kelelahan Kroasia lewat dua tembakan jarak jauh kelas atas dari Paul Pogba dan Kylian Mbappé. Mandžukić sempat memperkecil ketertinggalan memanfaatkan blunder kiper Hugo Lloris, namun skor akhir tetap 4-2 untuk kemenangan Prancis.

Prancis keluar sebagai juara dunia untuk kedua kalinya dalam sejarah. Didier Deschamps mengukir rekor elite sebagai orang ketiga yang mampu memenangkan Piala Dunia sebagai pemain (1998) dan pelatih (2018), menyusul jejak Mario Zagallo dan Franz Beckenbauer. Meskipun kalah di final, rasa hormat dunia sepenuhnya jatuh kepada Kroasia. Luka Modrić secara resmi dianugerahi gelar Pemain Terbaik atau Golden Ball turnamen. Foto Modrić yang tersenyum getir saat menerima trofi individual di bawah guyuran hujan lebat Moskow menjadi visual abadi edisi 2018: bahwa keindahan sepak bola tidak hanya milik mereka yang mengangkat piala, tetapi juga milik mereka yang berjuang hingga tetes darah terakhir.

Sebagai informasi, Piala Dunia 2018 juga mencatat sejumlah fakta penting. Rusia bertindak sebagai tuan rumah, Prancis menjadi juara untuk kedua kalinya, dan Kroasia harus puas sebagai runner-up. Harry Kane dari Inggris menjadi pencetak gol terbanyak dengan enam gol. Edisi ini juga menjadi tonggak sejarah karena pertama kalinya teknologi Video Assistant Referee (VAR) diterapkan secara resmi. Kehadiran VAR mengubah drastis jalannya laga, menghasilkan rekor 29 hadiah penalti sepanjang turnamen akibat akurasi peninjauan ulang video pelanggaran. Selain itu, bek Prancis, Benjamin Pavard, mencetak gol terbaik turnamen lewat sepakan voli melengkung dari luar kotak penalti ke gawang Argentina, yang langsung viral secara global dan melambungkan namanya di panggung Eropa.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags