Lalu, bagaimana dengan kita, para penumpang? Financial Times memprediksi, dalam hitungan bulan ke depan, harga tiket pesawat berpotensi melonjak drastis. Yang menarik, kenaikan ini bisa terjadi bahkan untuk rute-rute yang sama sekali tidak terkait dengan Timur Tengah. Kok bisa?
Logikanya sederhana: maskapai berusaha mati-matian menjaga pemasukan mereka. Ketika biaya operasional membengkak di satu sektor, kompensasinya seringkali dibebankan secara lebih merata. Jadi, jangan kaget kalau tiket liburan ke Eropa atau Amerika nanti ikut-ikutan naik. Mereka berusaha bertahan, dan kita yang mungkin harus menanggung sebagian bebannya.
Semua ini berawal dari insiden akhir Februari lalu. Serangan gabungan AS dan Israel mengguncang Iran, termasuk Teheran, dan meninggalkan kerusakan infrastruktur serta korban jiwa. Iran pun tak tinggal diam. Mereka melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di berbagai titik di Timur Tengah.
Awalnya, AS dan Israel beralasan serangan itu untuk membendung ancaman program nuklir Iran. Namun belakangan, banyak yang melihat motif sebenarnya lebih dalam: keinginan untuk mendorong pergantian rezim di negara tersebut. Konflik yang rumit, dengan konsekuensi yang merambat jauh melampaui batas geografinya.
Dampaknya kini jelas terasa. Dari ruang rapat dewan direktur maskapai hingga ke kantong calon penumpang. Ketegangan geopolitik ini telah berubah menjadi badai sempurna bagi dunia penerbangan.
(ANN)
Artikel Terkait
Satgas PRR Pascabencana Sumatera Kebut Pembangunan 36 Ribu Hunian Tetap Usai Lebaran
Cucu Mpok Nori Tewas Dibunuh Mantan Suami Siri Warga Irak di Kontrakan Jakarta Timur
SKB Tiga Menteri Tetapkan 11 Hari Libur Nasional dan 3 Cuti Bersama 2026
Program Hutan Lestari Pertamina Hidupkan Kembali Ekonomi Warga di Lereng Gunung Agung