Pasca bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, upaya pemulihan kini memasuki fase krusial. Satgas PRR Pascabencana Sumatera tak berhenti bergerak. Fokus mereka kini mengerucut pada satu hal: menyediakan rumah yang layak untuk para pengungsi yang kehilangan tempat tinggal.
Rumah-rumah yang rusak berat, roboh, bahkan hanyut terbawa arus, harus segera digantikan. Untuk itulah, pembangunan hunian tetap atau huntap akan dikebut begitu masa Lebaran usai. Ini bukan sekadar soal membangun tembok dan atap, tapi tentang memberi fondasi baru bagi kehidupan warga yang porak-poranda.
Muhammad Tito Karnavian, sang Ketua Satgas, sudah menyiapkan langkah konkret. Rapat koordinasi dengan pemerintah daerah akan segera digelar.
“Kami sudah janjian nanti setelah lebaran ini dengan Menteri PKP untuk turun koordinasikan pemda-pemda yang mana sudah siap dibangun, untuk segera dibangun,”
ujar Tito dalam sebuah keterangan tertulis, Minggu lalu.
Pekerjaan besar ini tentu tak bisa ditangani sendirian. Kolaborasi lintas sektor pun digalang, melibatkan BNPB, Kementerian PKP, Kemenkopolkam, hingga Polri. Tak ketinggalan, lembaga swasta dan perorangan juga turut serta dalam aksi gotong royong nasional ini.
Nah, terkait pembangunannya, ada dua skema yang akan diterapkan. Pertama, metode in situ. Artinya, huntap dibangun di sekitar lokasi rumah warga sebelumnya, tentu saja setelah dipastikan lahannya sudah aman. BNPB akan banyak menangani skema ini. Di Kabupaten Bireuen, Aceh, misalnya, sudah ada usulan untuk membangun 365 unit huntap dengan cara seperti ini.
Di sisi lain, ada juga skema komunal atau relokasi terpusat. Skema ini dipilih untuk warga yang sebelumnya tinggal di kawasan yang dinilai sudah tidak lagi aman. Mereka akan ditempatkan di satu hamparan lahan baru yang memang sudah disiapkan. Untuk yang satu ini, Kementerian PKP akan banyak berperan.
Angkanya cukup besar. Secara total, rencana pembangunan huntap di tiga provinsi itu mencapai 36.669 unit. Perkembangannya? Hingga saat ini, 110 unit dilaporkan sudah selesai, sementara 1.359 unit lainnya masih dalam proses pengerjaan.
Sembari menunggu huntap yang permanen itu selesai, Satgas juga tak tinggal diam. Upaya memastikan warga punya atap di atas kepala terus dilakukan. Mereka menyiapkan hunian sementara (huntara) dan memberikan Dana Tunggu Hunian. Dana sebesar Rp 1,8 juta itu bisa digunakan pengungsi untuk menyewa rumah. Setidaknya, ini jadi solusi darurat sebelum mereka akhirnya bisa pulang ke rumah baru.
Artikel Terkait
Anies Baswedan: Guru yang Tanamkan Nilai dan Etika Tak Tergantikan AI
WHO Konfirmasi Wabah di Kapal Pesiar MV Hondius Akibat Virus Andes yang Langka
Serangan Israel Tewaskan Komandan Senior Pasukan Radwan Hizbullah di Beirut
BMKG Peringatkan Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Sebagian Besar Wilayah Indonesia pada 6-8 Mei 2026