Jakarta - Industri penerbangan global mulai merasakan getahnya. Ketegangan di Timur Tengah, yang memanas pasca serangan AS dan Israel ke Iran, ternyata tak cuma soal politik. Kerugian finansial yang harus ditanggung puluhan maskapai ternyata fantastis: sekitar 53 miliar dolar AS, atau nyaris Rp900 triliun! Angka itu berdasarkan kalkulasi harian Financial Times.
Ya, hampir Rp900 triliun menguap begitu saja. Bukan jumlah main-main.
Dihimpit Masalah Ganda: Minyak Mahal dan Operasi Tersendat
Di sisi lain, para eksekutif maskapai sudah lama mengeluhkan ancaman ganda ini. Harga minyak yang melambung tinggi jadi beban utama. Tapi itu belum semuanya. Operasional di bandara-bandara kawasan Teluk juga kacau balau, ditambah lagi dengan permintaan tiket yang cenderung menurun secara global. Situasi yang benar-benar memeras keringat.
Menurut sejumlah analis, tekanan ini datang dari segala penjuru. Maskapai seolah terjepit.
Artikel Terkait
Satgas PRR Pascabencana Sumatera Kebut Pembangunan 36 Ribu Hunian Tetap Usai Lebaran
Cucu Mpok Nori Tewas Dibunuh Mantan Suami Siri Warga Irak di Kontrakan Jakarta Timur
SKB Tiga Menteri Tetapkan 11 Hari Libur Nasional dan 3 Cuti Bersama 2026
Program Hutan Lestari Pertamina Hidupkan Kembali Ekonomi Warga di Lereng Gunung Agung