Hari kedua Lebaran seharusnya diisi dengan canda dan silaturahmi. Tapi bagi Feri, warga Ciracas, Jakarta Timur, hari itu justru dihabiskan untuk berjibaku dengan lumpur dan genangan air yang memenuhi rumahnya. Banjir datang tanpa diundang, merusak rencana berkunjung ke sanak saudara. Meski begitu, pria 51 tahun ini lebih memilih bersyukur. Setidaknya, katanya, ia dan keluarga masih diberi kesempatan untuk merayakan Idul Fitri.
Dari pagi, Feri dan istrinya terlihat sibuk membersihkan sisa-sisa banjir. Mereka bergantian membasuh meja dan kursi yang penuh pasir. Di dalam rumah, aktivitas bersih-bersih berlangsung meski air masih menggenang di jalan depan pagar, mengingatkan betapa parahnya banjir semalam.
“Biasanya hari kedua ya ke rumah Bapak, ke paman-paman, keliling, nyekar,” ujar Feri ketika ditemui di rumahnya pada Minggu (22/3/2026).
Suaranya terdengar lelah. “Tapi hari ini nggak bisa, kagak dah. Udah badan udah nggak inian.”
Rencana itu pun pupus. Baju koko yang rapi ia ganti dengan pakaian lusuh penuh noda.
Menurut ceritanya, semua berawal saat keluarga besar mereka sedang berkumpul merayakan Lebaran. Hujan turun dengan deras, tapi Feri sempat merasa tenang. Ia pikir banjir tidak akan separah itu. Ternyata salah. Sekitar pukul enam sore, air mulai naik dengan cepat, memaksa mereka semua naik ke lantai dua.
“Lagi ngobrol di rumah aja, ada kakak, Lebaran. Sekitar jam 6 airnya cepet banget naiknya, terus pada naik ke atas,” kenangnya.
Semakin malam, situasi makin mencemaskan. Genangan air merayap masuk, pelan tapi pasti. Feri langsung bergerak. Kulkas diikatnya kuat-kuat agar tidak rubuh. Barang-barang berharga di lantai bawah pun dipindahkan ke atas.
“Pas udah stay naiknya pelan-pelan itu jam 9, jam 10-an. Kulkas saya iket-iketin takut rubuh. Kemarin udah jomplang, cuman sempet ketahuan,” ucap Feri.
Air tak kunjung surut. Menjelang tengah malam, suara ketukan pintu terdengar. Pengurus RT dan RW setempat berkeliling, meminta warga untuk segera mengungsi demi keselamatan.
“Sebenernya saya mau tidur di atas cuma disuruh keluar sama RW sama RT pengurus,” tuturnya.
“Habis makin lama makin tinggi. Jadi itu hampir kena pompa. Mau nggak mau kan diungsiin, takut listrik apa-apa kan, kita nggak tahu masih nyala apa kagak.”
Akhirnya, sekitar pukul 11 malam, Feri memboyong keluarganya mengungsi ke rumah orang tuanya di Jagakarsa. Pagi harinya, saat fajar menyingsing di hari kedua Lebaran, mereka kembali. Kondisi rumah masih terendam. Baru sekitar pukul delapan pagi, mereka mulai membereskan semua kekacauan itu.
“Jam setengah lima subuh cuma belum surut. Jam delapan lewat lah mulai bersih-bersih,” katanya.
Feri memutuskan untuk segera bekerja. Menurutnya, kalau tidak dimulai, pekerjaan itu tak akan pernah selesai.
“Kalau nggak dikerjain ya nggak kelar-kelar lah. Mau dibilang apa, orang kita juga tinggal ini doang kok. Kalau yang di bawah kan emang susah, masih air nggak jalan, jadi kan percuma dikurasin. Kalau saya kan udah hampir jalanan doang,” ucapnya sambil terus bekerja.
Di sisi lain, ia mengakui bagian tersulit adalah membersihkan endapan lumpur dan pasir yang membandel. “Beresin pasirnya, nyerok-nyerokin lumpur, pasir itu paling capek,” pungkasnya.
Banjir di momen Idul Fitri jelas sebuah kejutan yang tak diinginkan. Tapi Feri memilih berlapang dada. Alih-alih bersedih, ia mencoba melihat sisi terang. Baginya, masih bisa melaksanakan salat Id bersama keluarga adalah nikmat terbesar di hari kemenangan itu.
“Beda nggak beda ya sama saja menurut saya, nikmatin saja hidup. Yang penting kemarin sudah sempat salat Id bareng keluarga,” tuturnya dengan senyum sederhana.
Artikel Terkait
Hakim Dinilai Sandiwara saat Tanya Soal Operasi Khusus di Sidang Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS
PSG vs Arsenal: Final Liga Champions 2026 di Budapest, Les Parisiens Incar Back-to-Back
Menteri Imigrasi Siapkan 968 Lokasi Kerja Sosial dan Usul 100 Lapas Baru untuk Terapkan KUHP Baru
DWP dan WBI Peringati Hari Kartini dengan Penghargaan Kartini Muda Award dan Bazar UMKM