Oleh karena itu, konversi ke kompor induksi listrik harus segera dijalankan. Tak cuma itu, politisi yang juga Doktor Ilmu Politik UI ini sepakat dengan wacana pensiun dini pembangkit diesel. Alasannya jelas: biaya operasinya membengkak dan emisinya pun berbahaya.
Namun begitu, Eddy tetap realistis. Ia mengakui bahwa sektor-sektor tertentu masih mutlak membutuhkan migas. Penerbangan, pelayaran, dan industri strategis seperti petrokimia atau farmasi adalah contohnya. Kebutuhan akan minyak dan gas, dalam beberapa hal, akan tetap signifikan ke depannya.
"Tapi untuk sektor-sektor lain di mana pengurangan energi fosil bisa dilakukan, apalagi yang sumbernya impor, transisi harus kita kejar," tegasnya.
Terakhir, Wakil Ketua Umum PAN ini menekankan aspek regulasi. Ia mendorong agar payung hukum untuk transisi energi segera diselesaikan. RUU Energi Baru dan Terbarukan, revisi UU Ketenagalistrikan, serta revisi UU Migas dinilainya sangat mendesak untuk diprioritaskan.
"Ini momentum untuk memperkuat fondasi hukumnya. Jangan sampai niat baik ini terhambat karena aturan yang belum siap," pungkas Eddy Soeparno.
Artikel Terkait
Warga Indonesia di Prancis Rayakan Idulfitri dengan Khidmat di KBRI Paris
Naila, Gadis Makassar yang Pernah Haru-Biru Prabowo, Kini Resmi Miliki Rumah Layak Huni
Kardinal Suharyo Sampaikan Selamat Idulfitri kepada Sahabat, Menag Nasaruddin Umar
Arus Puncak Padat, Polisi Terapkan Sistem Satu Arah di Hari Kedua Lebaran