Peneliti Indonesia Perkenalkan Definisi Baru Tanah dan Ilmu Tanah di Jurnal Internasional

- Sabtu, 21 Maret 2026 | 21:15 WIB
Peneliti Indonesia Perkenalkan Definisi Baru Tanah dan Ilmu Tanah di Jurnal Internasional

Implikasinya? Luas sekali. Kalau tanah dipahami sebagai penopang kehidupan dan kesejahteraan, maka ilmu tanah tak boleh lagi terkungkung di fakultas pertanian saja. Ia harus merambah ke disiplin lain.

Di fakultas teknik, misalnya, ilmu tanah bisa jadi dasar untuk perencanaan infrastruktur yang lebih berkelanjutan. Di fakultas lingkungan, ia kunci untuk memahami mitigasi perubahan iklim atau rehabilitasi lahan rusak. Sementara di ilmu kebumian, tanah adalah bagian integral yang tak terpisahkan dari interaksi batuan, air, dan atmosfer.

Ini membuka ruang integrasi yang sangat menarik. Ilmu tanah bisa menjadi jembatan yang menghubungkan ilmu pertanian, lingkungan, kebumian, bahkan ilmu sosial. Yang lebih membanggakan, gagasan penting ini lahir dari komunitas ilmiah Indonesia. Selama ini, kita sering melihat konsep-konsep besar datang dari pusat riset di Eropa atau Amerika. Ternyata, pemikiran mendasar pun bisa berasal dari sini.

Ini tentu jadi angin segar, terutama bagi peneliti muda. Ilmu tanah tak lagi terasa sempit. Ia bukan cuma soal klasifikasi jenis tanah atau rekomendasi pupuk. Lebih dari itu, ia menawarkan perspektif untuk menjawab krisis lingkungan global.

Tantangan ke depan jelas ada. Bagaimana gagasan konseptual yang sudah diakui secara internasional ini bisa diterjemahkan ke dalam kebijakan dan praktik pengelolaan tanah di lapangan? Indonesia, dengan keragaman tanah tropisnya yang luar biasa, punya 'laboratorium alam' yang sempurna untuk menjawab tantangan itu.

Jika dikelola dengan paradigma baru ini, tanah Indonesia tak cuma akan menopang ketahanan pangan, tapi juga keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan kita semua.

Pada akhirnya, mendefinisikan ulang tanah bukan sekadar perdebatan akademis yang elitis. Ini adalah langkah untuk merefleksikan kembali hubungan kita dengan bumi yang kita pijak sehari-hari. Dan dalam bab penting ini, para peneliti Indonesia sudah menorehkan tintanya.

") Dr. Destika Cahyana, SP., M.Sc adalah Peneliti di Pusat Riset Tanaman Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Editor: Dewi Ramadhani


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar