Umat Muslim Iran Jalankan Salat Idulfitri di Tengah Situasi Perang

- Sabtu, 21 Maret 2026 | 23:30 WIB
Umat Muslim Iran Jalankan Salat Idulfitri di Tengah Situasi Perang

Fajar di Teheran pada Sabtu, 21 Maret 2026, punya nuansa yang lain. Udara pagi itu tak hanya membawa kesejukan, tapi juga ketegangan. Ribuan umat Muslim Iran berkumpul untuk menunaikan salat Idulfitri, merayakan kemenangan setelah Ramadan, di tengah situasi yang sama sekali tidak biasa: mereka sedang berada dalam keadaan perang.

Kebanyakan negara muslim lain sudah merayakannya sehari sebelumnya. Tapi bagi Iran, Idulfitri 1447 Hijriah ini benar-benar istimewa dan berat. Perang dengan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai sejak akhir Februari masih terus berlangsung. Bahkan, ibu kota mereka masih kerap menjadi sasaran bombardir.

Kerumunan jemaah memadati kawasan Masjid Agung Imam Khomeini, yang namanya diambil dari pendiri republik Islam itu. Ruang dalam masjid tak cukup menampung semua orang. Akibatnya, banyak yang terpaksa melaksanakan salat di luar, di pelataran dan area sekitarnya.

Televisi pemerintah tetap menyiarkan langsung suasana itu. Layar-layar mereka menampilkan gambar kerumunan yang padat di sekitar masjid, sebuah pemandangan yang penuh makna di tengah ancaman serangan yang selalu mengintai.

Siaran itu juga menampilkan suasana serupa dari kota-kota lain. Dari Arak di bagian tengah, Zahedan di tenggara, hingga Abadan di wilayah barat. Ritual yang sama, perasaan yang mungkin serupa: sebuah tekad untuk tetap menjalankan ibadah di tengah kepungan konflik.

Menurut laporan, serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu memang telah memicu perang ini. Korban berjatuhan, termasuk sejumlah pejabat tinggi. Pemimpin tertinggi Iran pun disebut-sebut menjadi salah satu korban dalam gelombang serangan tersebut.

Jadi, di hari yang seharusnya penuh sukacita ini, langkah kaki jemaah terasa lebih berat. Doa-doa yang dipanjatkan tentu tak hanya untuk kesalehan pribadi, tetapi juga untuk perdamaian dan keselamatan negeri mereka yang sedang terluka.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar