Rabu, 21 Januari 2026, menandai pergeseran kendali di Kamp Al-Hol. Pasukan pemerintah Suriah, setia pada Presiden Ahmad al-Sharaa, akhirnya menguasai fasilitas penahanan besar di provinsi Hasakah itu.
Perpindahan kekuasaan ini berlangsung cepat. Hanya sehari sebelumnya, Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi memutuskan mundur. Mereka angkat kaki setelah dua pekan diwarnai bentrokan dan jeda sementara selama empat hari.
Nama Al-Hol sudah lama jadi momok. Terletak di gurun tandus dekat perbatasan Suriah-Irak, kamp ini dikenal sebagai salah satu tempat penampungan terbesar untuk keluarga dan kerabat militan ISIS. Sekitar 24.000 jiwa terperangkap di sana. Mayoritas adalah perempuan dan anak-anak, berasal dari Suriah, Irak, dan puluhan negara lain kurang lebih 42 negara.
Jadi, siapa sebenarnya yang menghuni kamp ini?
Intinya, mereka adalah sisa-sisa dari sebuah kekhalifahan yang runtuh. Banyak di antaranya adalah istri dan anak-anak mantan pejuang ISIS asing, yang ditinggalkan begitu saja setelah kekalahan kelompok itu. Ada juga warga negara asing dari Eropa dan Asia, yang seolah dilupakan oleh negara asalnya. Hidup di sana penuh keputusasaan. Kepadatannya luar biasa, layanan dasar nyaris tak ada. Makanya, tempat ini sering dijuluki "penjara terbuka" atau "kota tenda" yang dikelola SDF sebuah labirin tanpa jalan keluar yang jelas.
Tantangannya sangat nyata. Pertama, soal reintegrasi. Bagaimana cara mereka kembali ke masyarakat yang sudah mencap mereka? Stigma dan kekhawatiran akan ideologi ekstrem masih membayangi. Kedua, sikap negara asal. Banyak pemerintah yang ogah-ogahan membawa pulang warganya, sehingga mereka terkatung-katung di tempat yang penuh risiko ini.
Singkatnya, Al-Hol adalah simbol dari warisan kelam ISIS. Sebuah bom waktu kemanusiaan dan keamanan yang terus berdetak.
Hingga awal 2026, angka pastinya berkisar antara 24.000 sampai 26.000 orang. Rinciannya kurang lebih begini: warga Suriah sekitar 15 ribu, warga Irak sekitar 6.700 (jumlah ini perlahan menyusut lewat program pemulangan), dan warga asing non-Irak/Suriah sekitar 6.300-6.500 orang. Yang menyedihkan, sekitar 60% dari mereka adalah anak-anak.
Artikel Terkait
Dua Bulan Pasca Banjir Bandang, Lumpur Hitam Masih Membayangi Aceh Tamiang
Makoto Shinkai Menangis Saat Tonton Adaptasi Live Action 5 Centimeters Per Second
Dari Warisan Sejarah ke Istana: Kisah Latifa al-Droubi, Ibu Negara Suriah
Gizi Anak Terjamin, Nasib Guru Honor Terkatung