Kendali Kamp Al-Hol Beralih ke Damaskus, Nasib 24.000 Jiwa Kembali Dipertaruhkan

- Jumat, 23 Januari 2026 | 06:20 WIB
Kendali Kamp Al-Hol Beralih ke Damaskus, Nasib 24.000 Jiwa Kembali Dipertaruhkan

Rabu, 21 Januari 2026, menandai pergeseran kendali di Kamp Al-Hol. Pasukan pemerintah Suriah, setia pada Presiden Ahmad al-Sharaa, akhirnya menguasai fasilitas penahanan besar di provinsi Hasakah itu.

Perpindahan kekuasaan ini berlangsung cepat. Hanya sehari sebelumnya, Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi memutuskan mundur. Mereka angkat kaki setelah dua pekan diwarnai bentrokan dan jeda sementara selama empat hari.

Nama Al-Hol sudah lama jadi momok. Terletak di gurun tandus dekat perbatasan Suriah-Irak, kamp ini dikenal sebagai salah satu tempat penampungan terbesar untuk keluarga dan kerabat militan ISIS. Sekitar 24.000 jiwa terperangkap di sana. Mayoritas adalah perempuan dan anak-anak, berasal dari Suriah, Irak, dan puluhan negara lain kurang lebih 42 negara.

Jadi, siapa sebenarnya yang menghuni kamp ini?

Intinya, mereka adalah sisa-sisa dari sebuah kekhalifahan yang runtuh. Banyak di antaranya adalah istri dan anak-anak mantan pejuang ISIS asing, yang ditinggalkan begitu saja setelah kekalahan kelompok itu. Ada juga warga negara asing dari Eropa dan Asia, yang seolah dilupakan oleh negara asalnya. Hidup di sana penuh keputusasaan. Kepadatannya luar biasa, layanan dasar nyaris tak ada. Makanya, tempat ini sering dijuluki "penjara terbuka" atau "kota tenda" yang dikelola SDF sebuah labirin tanpa jalan keluar yang jelas.

Tantangannya sangat nyata. Pertama, soal reintegrasi. Bagaimana cara mereka kembali ke masyarakat yang sudah mencap mereka? Stigma dan kekhawatiran akan ideologi ekstrem masih membayangi. Kedua, sikap negara asal. Banyak pemerintah yang ogah-ogahan membawa pulang warganya, sehingga mereka terkatung-katung di tempat yang penuh risiko ini.

Singkatnya, Al-Hol adalah simbol dari warisan kelam ISIS. Sebuah bom waktu kemanusiaan dan keamanan yang terus berdetak.

Hingga awal 2026, angka pastinya berkisar antara 24.000 sampai 26.000 orang. Rinciannya kurang lebih begini: warga Suriah sekitar 15 ribu, warga Irak sekitar 6.700 (jumlah ini perlahan menyusut lewat program pemulangan), dan warga asing non-Irak/Suriah sekitar 6.300-6.500 orang. Yang menyedihkan, sekitar 60% dari mereka adalah anak-anak.

Menurut pantauan di lapangan, kendaraan lapis baja pasukan Suriah bergerak masuk setelah SDF pergi. Kementerian Dalam Negeri Suriah sendiri bilang, mereka sedang mengambil langkah-langkah keamanan untuk menjaga stabilitas kamp.

Namun begitu, pemimpin SDF Mazloum Abdi punya pandangan lain. Ia menyalahkan "ketidakpedulian internasional" atas mundurnya pasukannya.

"Koalisi pimpinan AS harus bertanggung jawab atas keamanan fasilitas penahanan ISIS ini, yang sekarang beralih ke tangan pemerintah Damaskus," katanya.

Perubahan ini nggak datang tiba-tiba. Ini adalah bagian dari gelombang besar pasca-jatuhnya rezim Assad akhir 2024. SDF, sekutu lama AS dalam perang melawan ISIS, pelan-pelan kehilangan cengkeramannya di timur laut Suriah. Termasuk atas kamp-kamp dan penjara yang menampung ribuan tersangka ISIS beserta keluarganya.

Di sisi lain, AS juga tak tinggal diam. Militer AS dikabarkan telah mulai memindahkan sejumlah tahanan terkait ISIS dari Suriah ke Irak. CENTCOM menyebut 150 tahanan, termasuk warga Irak dan asing, sudah dipindah ke fasilitas aman di Irak pada Rabu pagi. Tujuannya jelas: memastikan mereka tetap diawasi ketat, agar tidak ada pelarian atau kebangkitan kembali ISIS.

Transisi kekuasaan di Al-Hol sendiri sempat berlangsung kacau. Ada laporan asap hitam tebal, penjarahan, bahkan serangan terhadap bangunan administrasi dan pusat bantuan. Beberapa penghuni mengeluh kelangkaan makanan, air, dan obat-obatan selama beberapa hari.

Kamp yang didirikan sejak 1991 ini memang selalu jadi sorotan, terutama setelah kekhalifahan ISIS ambruk tahun 2019. Ia disebut-sebut sebagai "bom waktu" yang mengancam stabilitas kawasan.

Pemerintah Suriah kini berjanji akan mengamankan kamp dan mencegah aktivitas ilegal. Proses repatriasi warga asing dan pemulangan warga Suriah serta Irak juga diklaim terus berjalan, meski di tengah tantangan keamanan dan kemanusiaan yang ruwet. Masa depan 24.000 jiwa di gurun Hasakah itu, sekali lagi, berada di titik yang tidak pasti.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar