Memang, jalan untuk memaafkan seringkali tidak mudah. Miftakhul Jannah mengakui hal itu. Kedalaman luka dan sejarah hubungan tiap orang sangatlah personal, membuat proses ini bisa terasa seperti pendakian yang terjal.
Namun begitu, ia menekankan satu hal penting: memaafkan sama sekali bukan berarti kita membenarkan kesalahan orang lain. Bukan. Ini lebih kepada sebuah keputusan berani untuk mengambil alih kendali. Keputusan untuk tidak membiarkan kenangan buruk mengacaukan ketentraman jiwa kita hari ini dan esok.
Dengan memaknai ulang pengalaman pahit itu, kita perlahan bisa meletakkan beban dari pundak sendiri. Menyimpan amarah dalam waktu lama itu ibaratnya memikul karung batu yang tak kasatmata. Risikonya bisa berat, mulai dari kelelahan mental hingga gejala depresi.
Pada akhirnya, memaafkan adalah bentuk kedaulatan diri. Sebuah cara untuk mengelola tekanan dengan mengatur respons emosi kita sendiri.
“Ketika memaafkan dilakukan dengan tulus, hal ini tidak hanya merajut kembali tali silaturahmi,” pungkas Mifta.
“Tetapi merupakan hadiah paling berharga bagi diri sendiri agar bisa melangkah dengan lebih ringan, tenang, dan sejahtera secara psikologis.”
Artikel Terkait
Putin Janjikan Dukungan Rusia kepada Iran di Tengah Ketegangan Timur Tengah
Lebaran Ketupat 2026 Diperkirakan Jatuh pada 28 Maret
Presiden Prabowo Gelar Open House Idulfitri Khusus untuk Masyarakat Umum
Kemacetan Parah Landa Tol Jagorawi Sore Ini, Genangan Air di Cibubur Perburuk Arus Lalu Lintas