Hari Raya Idulfitri memang kerap diidentikkan dengan momen saling memaafkan. Tapi, tahukah Anda? Lebih dari sekadar tradisi tahunan, tindakan memaafkan itu sendiri ternyata punya kekuatan luar biasa untuk menyembuhkan luka batin kita.
Miftakhul Jannah, seorang dosen Psikologi di Unesa, punya penjelasan menarik soal ini. Menurutnya, memaafkan bukan cuma basa-basi sosial belaka. Itu adalah sebuah transformasi emosi yang nyata. Proses ini mengubah sisa-sisa kepahitan menjadi ketenangan, yang akhirnya membuat kita lebih mampu beradaptasi dengan kehidupan.
“Jika dibiarkan, pola pikir rumination dapat memicu stres kronis dan beban emosional yang berat,” jelas Mifta, seperti dikutip dari laman kampusnya.
Ia melanjutkan, “Sebaliknya, individu yang mampu memaafkan cenderung memiliki tingkat stres yang lebih rendah, emosi yang lebih stabil, serta kepuasan hidup yang jauh lebih tinggi.”
Nah, dalam pandangan psikologi, apa yang terjadi sebenarnya? Tradisi saling memaafkan ini berfungsi sebagai katarsis, sebuah pelepasan beban emosi yang sudah lama terpendam. Suasana spiritual Lebaran menciptakan ruang yang pas untuk refleksi. Di momen seperti inilah, empati bisa tumbuh lebih subur, entah untuk mempererat hubungan atau justru memulihkan ikatan yang sempat rusak.
Dampaknya langsung terasa pada kesehatan mental. Saat seseorang memilih melepaskan dendam, cara pandangnya terhadap masa lalu yang pahit pun bergeser. Ini secara efektif memutus siklus ‘rumination’ kebiasaan melelahkan dimana pikiran negatif terus berputar-putar di kepala tanpa henti.
Artikel Terkait
Putin Janjikan Dukungan Rusia kepada Iran di Tengah Ketegangan Timur Tengah
Lebaran Ketupat 2026 Diperkirakan Jatuh pada 28 Maret
Presiden Prabowo Gelar Open House Idulfitri Khusus untuk Masyarakat Umum
Kemacetan Parah Landa Tol Jagorawi Sore Ini, Genangan Air di Cibubur Perburuk Arus Lalu Lintas