Makan Bergizi vs Kuliah Gratis: Polemik Prioritas Anggaran yang Mengguncang

- Kamis, 15 Januari 2026 | 12:40 WIB
Makan Bergizi vs Kuliah Gratis: Polemik Prioritas Anggaran yang Mengguncang

Perdebatan soal anggaran negara kembali memanas. Kali ini, sorotan tajam diarahkan pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibanding-bandingkan dengan anggaran untuk pendidikan tinggi. Perbandingan yang beredar luas di media sosial ini benar-benar menyulut diskusi.

Sebuah visual yang viral menyajikan angka-angka yang bikin mata berkedip. Disebutkan, dana MBG untuk satu hari saja mencapai Rp 1,2 triliun. Kalau dihitung untuk sebulan asumsikan 20 hari sekolah anggarannya bisa melambung hingga Rp 24 triliun.

Nah, angka sebesar itu lalu dibandingkan dengan sesuatu yang jauh berbeda: biaya pendidikan gratis di ITB. Menurut perhitungan yang sama, Rp 21,2 triliun disebut bisa membiayai kuliah gratis di kampus ternama itu selama empat puluh tahun! Dengan dana segitu, diperkirakan sekitar 212 ribu sarjana bisa dilahirkan.

Perbandingan yang kontras ini, tentu saja, langsung memantik pertanyaan besar. Ke mana sebenarnya arah prioritas kebijakan anggaran kita?

Pemerintah punya argumennya sendiri. Program MBG digadang-gadang sebagai solusi darurat. Tujuannya jelas: meningkatkan gizi anak-anak sekolah dan mencegah stunting, masalah kesehatan yang sudah mengakar. Ini adalah langkah cepat untuk mengatasi masalah yang ada di depan mata.

Namun begitu, di sisi lain, suara kritik tak bisa dipungkiri. Banyak kalangan, terutama dari dunia pendidikan, memandang investasi di perguruan tinggi sebagai sesuatu yang lebih strategis. Pendidikan, bagi mereka, bukan sekadar urusan gelar. Ia adalah investasi jangka panjang yang dampaknya bisa dirasakan lintas generasi, membentuk SDM unggul dan daya saing bangsa.

Inti kritiknya sederhana tapi mendasar: makanan habis dikonsumsi hari ini, sementara ilmu pengetahuan yang didapat di bangku kuliah akan terus dibawa seumur hidup dan ditularkan ke generasi berikut.

Jadi, ini bukan debat kusir tentang memilih antara "makan" atau "sekolah". Lebih dari itu, ini adalah pertanyaan tentang keseimbangan. Seberapa besar komitmen negara untuk membangun masa depan, ketimbang sekadar memadamkan api masalah yang muncul hari ini?

Hingga berita ini diturunkan, pemerintah belum memberikan klarifikasi resmi yang menjawab langsung perbandingan angka-angka viral tersebut. Tapi diamnya pemerintah tak lantas meredam perbincangan.

Justru sebaliknya. Diskusi publik yang semakin menguat ini menandai satu hal yang positif: masyarakat sekarang lebih kritis. Mereka mulai jeli membaca angka-angka dalam APBN, dan tak sungkan bertanya: untuk siapa sebenarnya uang rakyat ini dianggarkan?

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar