Lalu, apa maksud jalan lurus itu? Ma'ruf Amin menerangkan, itu adalah jalan yang memungkinkan seseorang menjalankan semua ketentuan Allah secara utuh. Tanpa pilih-pilih sesuai selera pribadi. Cakupannya luas, tidak cuma ibadah ritual semata. Tapi juga menyangkut muamalah: ekonomi, politik, hingga interaksi sosial budaya.
Semua itu, katanya, intinya adalah upaya sungguh-sungguh untuk kembali ke jati diri. Untuk tunduk pada ketentuan-Nya. Di hari raya yang berkah ini, beliau mengajak semua untuk bermohon.
"Semoga kita semua senantiasa diberi kekuatan dan keistiqamahan untuk menjaga keimanan dan keislaman kita, tunduk dan patuh pada semua ketentuan Allah sampai napas terakhir," jelasnya tegas.
Memang, diakui Ma'ruf, ibadah di bulan Ramadan terasa berat. Namun menurutnya, tantangan sesungguhnya justru ada di sebelas bulan berikutnya. Menjaga konsistensi, menjaga keistiqamahan agar tetap berada di 'jalur Ramadan' yaitu di jalan Allah itu jauh lebih berat.
Beliau kemudian mengutip firman Allah. "Siapa yang berjalan di atas petunjuk-Ku, dia tidak akan mengalami rasa takut menghadapi masa depan yang tidak jelas maupun masa lalu yang penuh kegagalan."
Di ayat lain, janji-Nya juga jelas. "Siapa yang berjalan di atas jalan-Ku, dia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka."
Pidato yang disampaikan dengan tenang itu pun menutup khutbah pagi itu, meninggalkan renungan di tengah gemuruh takbir.
Artikel Terkait
Polda Riau Ganti THR dengan Sedekah Bibit Pohon di Idul Fitri
Khatib Idul Fitri di Deli Serdang Serukan Penguatan Spiritual, Sosial, dan Empati
Macet Parah, Jasa Marga Terapkan Contraflow di Tol Jakarta-Cikampek
Tradisi Salam Tempel Lebaran: Dari Sejarah Hingga Kisaran Nominal yang Biasa Diberikan