Suasana di Kelurahan Manuruki, Tamalate, Makassar, masih terasa mencekam. Warga dihantui duka setelah seorang pria, Sultan Said (55), meninggal dunia dalam insiden yang melibatkan ancaman senjata tajam. Yang membuatnya lebih menyedihkan, pelaku yang mengacungkan parang itu adalah kakak iparnya sendiri, Hasjaya (51).
Menurut keterangan yang beredar, semuanya berawal dari cekcok di antara mereka berdua. Emosi memanas, hingga Hasjaya dikabarkan mengejar Sultan sambil membawa parang. Dalam kepanikan, korban pun berlari sekuat tenaga untuk menghindari ancaman itu.
Namun, nasib berkata lain.
“Pelaku sempat mengejar korban sambil mengancam menggunakan parang. Korban berusaha menyelamatkan diri dengan berlari, namun terjatuh dan pingsan,”
kata Nurbaya, istri almarhum, dengan suara bergetar.
Sultan Said langsung dilarikan ke RS Haji Makassar, tapi sayangnya nyawanya tak tertolong. Polisi yang menyelidiki kasus ini menduga kuat ada faktor lain yang memperparah keadaannya. Selain trauma akibat dikejar, Sultan disebut-sebut memiliki riwayat penyakit jantung. Kondisi fisiknya mungkin tak sanggup menahan beban saat berlari ketakutan, yang berakhir dengan jatuh pingsan dan kematian.
Di sisi lain, upaya penanganan dari kepolisian dilakukan cepat. Personel Polsek Tamalate segera bergerak setelah mendapat laporan warga. Sayangnya, saat mereka tiba di lokasi, pelaku sudah kabur menggunakan sepeda motor. Tidak hanya mengejar pelaku, polisi juga mengambil langkah antisipatif. Mereka mengevakuasi keluarga pelaku ke Mapolsek untuk mencegah kemungkinan aksi balasan dari keluarga korban langkah yang dianggap perlu mengingat rumitnya hubungan keluarga dalam kasus ini.
Kapolsek Tamalate, Kompol Muh Thamrin, membenarkan insiden berbahaya itu terjadi pada Kamis (19/3/2026). Dia menekankan betapa disayangkannya kasus yang melibatkan hubungan sedarah ini.
“Ini sangat disayangkan karena korban dan pelaku masih memiliki hubungan keluarga sebagai kakak ipar. Kami sudah mengamankan barang bukti dan saat ini masih memburu pelaku,”
tegas Thamrin.
Hingga kini, penyelidikan terus berjalan. Polisi masih memeriksa sejumlah saksi dan mendalami motif sebenarnya di balik ancaman parang yang berakhir tragis itu. Masyarakat setempat pun berharap kasus ini segera menemukan titik terang, agar keluarga yang ditinggalkan bisa mendapatkan keadilan dan ketenangan.
Artikel Terkait
Mahfud MD: KPRP Rekomendasikan Kompolnas Jadi Lembaga Independen Pengawas Polri
Harga Emas Galeri24 Naik Rp10.000, UBS Justru Terkoreksi Rp13.000 per Gram
Kajati Sulsel Setujui Penghentian Penuntutan Anggota Polri Terduga Pelaku KDRT Lewat Keadilan Restoratif
Pistons Kalahkan Cavaliers 111-101 di Game 1 Semifinal Wilayah Timur, Cunningham Cetak 32 Poin