Jakarta Lebaran. Kata itu saja sudah bikin senyum. Momen yang ditunggu-tunggu itu bukan cuma soal ketupat dan opor ayam, tapi juga tentang kumpul keluarga, saling memaafkan, dan... salam tempel. Ya, tradisi bagi-bagi amplop berisi uang ini seolah jadi bumbu penyedap yang bikin suasana Idulfitri makin semarak. Terutama buat anak-anak, tentu saja.
Ngomong-ngomong soal tradisi, ternyata kebiasaan bagi-bagi uang saat Lebaran ini usianya sudah sangat tua. Menurut catatan sejarah, praktik serupa sudah berlangsung sejak awal abad pertengahan, lho. Kala itu, kekhalifahan Fatimiyah di Afrika Utara punya kebiasaan membagikan uang, pakaian, sampai permen ke masyarakat di hari pertama Idulfitri.
Lalu, sekitar lima abad kemudian di akhir era Ottoman, tradisi ini muncul lagi. Dari sanalah kemudian kebiasaan itu menyebar dan akhirnya mendarah daging di banyak negara, termasuk Indonesia. Bedanya, di sini salam tempel punya ciri khas: uangnya harus baru dan mulus. Kalau lecek, rasanya kurang afdal.
Mengapa Uang Baru Lebih Disukai?
Ini fenomena yang menarik. Sejak dulu, anak-anak memang lebih suka terima uang baru ketimbang yang sudah lusuh. Makanya, nggak heran kalau jelang Lebaran, antrean di bank untuk penukaran uang bisa panjang berjubel. Uang yang masih kertasnya kencang dan berbau khas itu dianggap lebih layak untuk dijadikan hadiah, lebih terasa spesial. Sampai sekarang pun kebiasaan ini masih kuat.
Lalu, Berapa Sih Nominal yang Pas?
Nah, ini pertanyaan yang sering bikin galau. Buat kamu yang lagi bingung mau kasih berapa, berikut ini kisaran yang umum diberikan. Tapi ingat, ini cuma patokan, ya. Yang paling penting sih sesuai kemampuan dan kedekatan hubungan.
Untuk anak SD yang bukan keluarga dekat, biasanya mulai dari Rp5.000 sampai Rp20 ribu. Kalau untuk bayi sampai anak SD yang masih keluarga, nominalnya bisa naik dikit, sekitar Rp10 ribu hingga Rp50 ribu.
Nah, buat keponakan atau adik yang udah SMP atau SMA, biasanya mulai dari Rp50 ribu sampai Rp100 ribu. Kalau yang udah kuliah, ya patokannya naik lagi, sekitar Rp150 ribu sampai Rp200 ribu.
Khusus untuk orang tua, nominalnya tentu lebih besar sebagai bentuk bakti, biasanya mulai dari Rp500 ribu hingga satu juta, atau bahkan lebih tergantung rezeki masing-masing.
Pada akhirnya, salam tempel ini nggak cuma sekadar urusan nominal. Lebih dari itu, ini soal kebahagiaan yang dibagi, tentang senyuman anak-anak, dan nilai kebersamaan yang diwariskan turun-temurun. Itulah yang bikin tradisi sederhana ini terus bertahan dan selalu dinanti setiap tahunnya.
(ANN)
Artikel Terkait
KPK Periksa Plt Bupati Cilacap sebagai Saksi Kasus Dugaan Pemerasan Berjenjang
Jakarta Raih Peringkat ke-17 Infrastruktur Transportasi Terbaik Dunia, Pramono: Saingan Kita Kini Kota Global
Hari Perawat Internasional 2026: Mengenang Florence Nightingale dan Seruan Pemberdayaan Perawat Global
Ekonomi Jateng Tumbuh 5,89 Persen di Awal 2026, Lampaui Rata-rata Nasional