Jakarta Lebaran. Kata itu saja sudah bikin senyum. Momen yang ditunggu-tunggu itu bukan cuma soal ketupat dan opor ayam, tapi juga tentang kumpul keluarga, saling memaafkan, dan... salam tempel. Ya, tradisi bagi-bagi amplop berisi uang ini seolah jadi bumbu penyedap yang bikin suasana Idulfitri makin semarak. Terutama buat anak-anak, tentu saja.
Ngomong-ngomong soal tradisi, ternyata kebiasaan bagi-bagi uang saat Lebaran ini usianya sudah sangat tua. Menurut catatan sejarah, praktik serupa sudah berlangsung sejak awal abad pertengahan, lho. Kala itu, kekhalifahan Fatimiyah di Afrika Utara punya kebiasaan membagikan uang, pakaian, sampai permen ke masyarakat di hari pertama Idulfitri.
Lalu, sekitar lima abad kemudian di akhir era Ottoman, tradisi ini muncul lagi. Dari sanalah kemudian kebiasaan itu menyebar dan akhirnya mendarah daging di banyak negara, termasuk Indonesia. Bedanya, di sini salam tempel punya ciri khas: uangnya harus baru dan mulus. Kalau lecek, rasanya kurang afdal.
Mengapa Uang Baru Lebih Disukai?
Ini fenomena yang menarik. Sejak dulu, anak-anak memang lebih suka terima uang baru ketimbang yang sudah lusuh. Makanya, nggak heran kalau jelang Lebaran, antrean di bank untuk penukaran uang bisa panjang berjubel. Uang yang masih kertasnya kencang dan berbau khas itu dianggap lebih layak untuk dijadikan hadiah, lebih terasa spesial. Sampai sekarang pun kebiasaan ini masih kuat.
Artikel Terkait
SBY dan Keluarga Bersilaturahmi dengan Prabowo di Istana Usai Lebaran
Lalu Lintas Lembang Macet Total Akibat Padatnya Pemudik dan Wisatawan Lebaran 2026
Istri Bawa Ketupat ke Rutan KPK, Noel Balas Beri Jatah Makanan untuk Keluarga
Presiden Prabowo Berbaur dengan Warga di Open House Istana Merdeka