Sabtu pagi (21/3/2026) di Lapangan Balai Kota Jakarta, suasana Idulfitri terasa khidmat. Di hadapan jamaah yang memadati lapangan, Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin menyampaikan khutbah yang sarat pesan. Intinya? Tentang bagaimana kita menyikapi perbedaan yang ada.
Beliau mengawali dengan menggambarkan realitas negeri ini. Indonesia itu majemuk, titik. Banyak suku, beragam budaya, latar belakang yang berbeda-beda. Nah, perbedaan itu punya dua wajah.
"Kalau tidak dikelola dengan baik, ia bisa jadi konflik," ujar Ma'ruf Amin.
Tapi begitu, lanjutnya, ada sisi lain. "Jika perbedaan dirajut dengan silaturahmi, ia menjadi harmoni kehidupan seperti sebuah simfoni."
Pesan utamanya jelas: dalam bermasyarakat, perbedaan jangan dijadikan alat pertentangan. Justru harus dipersatukan untuk menciptakan harmoni. Itulah yang disebutnya sebagai "simfoni kemenangan".
Momen Ramadan, menurutnya, adalah waktu kita kembali ke fitrah. Penuh ibadah dan amal saleh. Tapi jangan dikira mudah mempertahankan kondisi fitrah itu setiap hari. Hidup ini dinamis, penuh halangan. Iman seseorang pun begitu naik turun, tidak selalu ajek. Karena itulah, kita harus terus memohon petunjuk.
"Kita selalu mohon kepada Allah agar diberikan petunjuk ke jalan yang lurus," tuturnya.
Artikel Terkait
Polda Riau Ganti THR dengan Sedekah Bibit Pohon di Idul Fitri
Khatib Idul Fitri di Deli Serdang Serukan Penguatan Spiritual, Sosial, dan Empati
Macet Parah, Jasa Marga Terapkan Contraflow di Tol Jakarta-Cikampek
Tradisi Salam Tempel Lebaran: Dari Sejarah Hingga Kisaran Nominal yang Biasa Diberikan