Suasana pagi di Balai Kota DKI Jakarta terasa berbeda Jumat kemarin. Ribuan jemaah memadati pelataran, merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah. Di tengah kerumunan itu, Wakil Presiden Ma'ruf Amin naik mimbar sebagai khatib. Pesan utamanya jelas: merawat ukhuwah, persaudaraan, dalam bingkai kemajemukan Indonesia yang luas.
Bagi Ma'ruf, Idulfitri bukan cuma soal hari kemenangan usai puasa. Lebih dari itu, ini momentum untuk kembali ke fitrah. "Idulfitri berarti kembali kepada fitrah," ujarnya.
"Yakni hati yang bersih, jiwa yang jujur, dan hubungan yang damai dengan sesama manusia."
Nah, untuk mencapai hubungan damai itu, tradisi halalbihalal yang sudah mengakar dinilainya bukan sekadar budaya biasa. Itu adalah ijtihad sosial, sebuah upaya cerdas untuk merajut persatuan.
Memang, hidup di negeri ini ya begitu. Perbedaan suku, budaya, dan latar belakang adalah suatu keniscayaan. Mau tidak mau, kita harus mengakui itu. Namun begitu, menurut sang Wakil Presiden, perbedaan itu justru bisa jadi kekuatan kalau dikelola dengan baik. Kuncinya? Silaturahmi.
"Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tapi untuk dipersatukan dalam harmoni kehidupan seperti sebuah simfoni," katanya.
Artikel Terkait
Menag Perkirakan Jemaah Salat Id di Istiqlal Capai Lebih dari 500 Ribu Orang
Wapres Maruf Amin: Kelola Perbedaan Jadi Simfoni, Jangan Sumber Konflik
Silaturahmi Idulfitri: JK, Anies, dan Mahfud Satu Saf Salat di Al Azhar
Kemacetan Panjang Landa Tol Jagorawi, Volume Kendaraan Meningkat Jadi Pemicu