Wapres Maruf Amin Serukan Perkuat Ukhuwah dan Kesalehan Sosial di Salat Id Balai Kota

- Sabtu, 21 Maret 2026 | 10:30 WIB
Wapres Maruf Amin Serukan Perkuat Ukhuwah dan Kesalehan Sosial di Salat Id Balai Kota

Suasana pagi di Balai Kota DKI Jakarta terasa berbeda Jumat kemarin. Ribuan jemaah memadati pelataran, merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah. Di tengah kerumunan itu, Wakil Presiden Ma'ruf Amin naik mimbar sebagai khatib. Pesan utamanya jelas: merawat ukhuwah, persaudaraan, dalam bingkai kemajemukan Indonesia yang luas.

Bagi Ma'ruf, Idulfitri bukan cuma soal hari kemenangan usai puasa. Lebih dari itu, ini momentum untuk kembali ke fitrah. "Idulfitri berarti kembali kepada fitrah," ujarnya.

"Yakni hati yang bersih, jiwa yang jujur, dan hubungan yang damai dengan sesama manusia."

Nah, untuk mencapai hubungan damai itu, tradisi halalbihalal yang sudah mengakar dinilainya bukan sekadar budaya biasa. Itu adalah ijtihad sosial, sebuah upaya cerdas untuk merajut persatuan.

Memang, hidup di negeri ini ya begitu. Perbedaan suku, budaya, dan latar belakang adalah suatu keniscayaan. Mau tidak mau, kita harus mengakui itu. Namun begitu, menurut sang Wakil Presiden, perbedaan itu justru bisa jadi kekuatan kalau dikelola dengan baik. Kuncinya? Silaturahmi.

"Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tapi untuk dipersatukan dalam harmoni kehidupan seperti sebuah simfoni," katanya.

Ia lantas menggambarkan masyarakat bagai orkestra. Beragam alat musik dengan suara berbeda-beda, tapi kalau dimainkan selaras, hasilnya adalah keindahan. Ibaratnya, simfoni yang memukau.

Di sisi lain, Ma'ruf juga mengingatkan soal warisan Ramadan. Bulan suci itu, katanya, tak cuma membentuk kesalehan spiritual di dalam diri. Ada juga dimensi sosialnya yang kuat, yang terlihat dari gelombang zakat, infak, dan sedekah.

Nilai-nilai itu harusnya nggak berhenti begitu Ramadan usai.

"Islam tidak hanya membangun kesalehan ritual, tetapi juga kesalehan sosial. Zakat dan sedekah adalah instrumen untuk pemerataan ekonomi," tegasnya.

Di penghujung khutbah, ajakannya sederhana tapi mendasar: istiqomah. Menjaga konsistensi dalam keimanan dan amal baik, meski bulan Ramadan sudah tinggal kenangan. Hidup di jalan yang lurus, dalam ibadah maupun dalam pergaulan sosial, itu yang ditekankan.

Salat Id kali ini sendiri dihadiri sekitar dua ribu jemaah, campuran dari ASN dan masyarakat biasa. Acara itu sekaligus jadi ajang silaturahmi dan halalbihalal antara pemerintah dan warga. Sebuah praktik nyata dari pesan-pesan yang disampaikan di atas mimbar.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar