Dia melanjutkan, menegaskan bahwa Eropa sama sekali "tidak tertarik pada perang tanpa akhir". Lebih jauh, Kallas dengan gamblang menyebut bahwa konflik semacam ini bukanlah "perangnya Eropa". Pernyataannya itu seperti menuangkan air dingin pada harapan Washington.
Memang, Uni Eropa punya perhatian pada keamanan maritim. Namun begitu, Kallas menekankan bahwa tidak ada niat sedikit pun di antara negara anggota untuk memperluas misi militer yang sudah ada seperti Operasi Aspides di Laut Merah ke wilayah Selat Hormuz yang memanas. Fokus mereka, katanya, tetap pada dua hal: menjaga kebebasan navigasi dan, yang tak kalah penting, mendorong jalan diplomasi.
"Tidak ada yang ingin secara aktif terlibat dalam perang ini," tegasnya sekali lagi.
Jadi, situasinya kini mandek. Di satu sisi, Trump bersikeras butuh bantuan untuk mengamankan selat itu. Di sisi lain, sekutu terdekatnya di Eropa justru memilih untuk menjauh dari jurang konflik yang lebih dalam, sambil tetap berpegang pada upaya diplomatik. Sebuah penolakan yang terang-terangan, dan mungkin akan berdampak pada dinamika ketegangan di Timur Tengah ke depannya.
Artikel Terkait
KPK Ungkap Kerugian Negara Rp622 Miliar dalam Kasus Korupsi Kuota Haji
Prabowo Usul Penerapan WFH dan Penghematan Energi Tiru Langkah Pakistan
Real Madrid Singkirkan Manchester City Berkat Gol Telat Vinicius
Bea Cukai Siapkan Infrastruktur Digital Antisipasi Lonjakan Penumpang di Bandara Soekarno-Hatta