Namun begitu, Hamas langsung merespons dengan keras. Hazem Qassem, seorang juru bicara organisasi tersebut, dengan tegas mengutuk pemboman itu.
Dia menyebutnya sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata."
Gencatan senjata sendiri sebenarnya sudah berlaku sejak 10 Oktober. Tapi di lapangan, keadaan jauh dari kata damai. Kekerasan masih terus berlanjut di wilayah Palestina yang sudah porak-poranda itu. Israel dan Hamas secara rutin saling tuduh, masing-masing mengklaim pihak lawan yang melanggar kesepakatan.
Ironisnya, kematian terbaru ini terjadi justru ketika ada upaya diplomatik berjalan. Sebuah sumber Hamas mengungkapkan, delegasi mereka di Kairo telah bertemu dengan Nickolay Mladenov, politisi Bulgaria yang ditunjuk sebagai perwakilan tinggi untuk Gaza. Penunjukannya dilakukan di bawah Dewan Perdamaian yang dibentuk era Presiden AS Donald Trump.
Dewan itulah, bersama mediator lama seperti Qatar dan Mesir, yang dulu berhasil merundingkan gencatan senjata. Tujuannya menghentikan perang yang sudah menghancurkan Gaza selama dua tahun. Sekarang, dengan serangan-serangan yang masih terjadi, jalan menuju perdamaian yang sejati terasa semakin panjang dan berliku.
Artikel Terkait
Union Berlin Menang Dramatis, Mainz Jauh dari Degradasi di Pekan ke-26 Bundesliga
Sembilan Layanan Gizi di Gresik Ditutup Sementara Usai Berikan Kelapa Utuh
Tafsir Mimpi Buaya: Simbol Kewaspadaan hingga Pertanda Perubahan
Golkar Siap Dukung Wacana Prabowo Potong Gaji Menteri dan DPR