“Ini tujuannya sederhana: mengantisipasi sopir yang mungkin nggak fit atau kendaraan yang kurang layak untuk terjun ke kemacetan mudik,” jelasnya.
Pemeriksaan di pos itu nggak cuma sekadar lihat STNK. Kondisi pengemudi jadi perhatian utama, untuk mencegah sopir yang kelelahan memaksakan diri menyetir.
“Kami kerja sama dengan perhubungan dan dinas kesehatan. Ada pemeriksaan kesehatan, bantuan vitamin, plus pengecekan kelayakan kendaraan. Semuanya biar perjalanan lebih aman,” tuturnya.
Operasi Ketupat sendiri diprediksi bakal mencatat angka luar biasa: sekitar 143,9 juta perjalanan selama periode 13 hingga 25 Maret 2026. Baru hari kedua, Sabtu (15/3), tercatat hampir 460 ribu kendaraan sudah keluar dari Jakarta.
Tapi itu belum apa-apa. Masih ada sekitar 3,2 juta kendaraan atau 76,9 persen yang diperkirakan belum bergerak dari ibu kota. Mayoritas menuju arah timur Pulau Jawa, dan puncak arusnya diprediksi terjadi mulai Rabu (18/3) sampai Jumat (20/3) mendatang. Jadi, perjalanan masih panjang.
Artikel Terkait
Kemendikdasmen dan Kemenpora Sepakat Perkuat Olahraga dan Karakter Pelajar
Dubes Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka dengan Syarat Khusus
Politisi DPR Kecam Serangan Air Keras ke Aktivis HAM Andrie Yunus
Polisi Megamendung Amankan 30 Botol Miras dalam Patroli Ramadan