Semua ini berawal dari serangan AS dan Israel pada akhir Februari 2026 lalu, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Peristiwa itu ibarat memantik bara menjadi api peperangan. Sejak saat itu, Teheran tak tinggal diam. Mereka membalas dengan gempuran drone dan rudal ke berbagai titik di wilayah tersebut.
Yang jadi masalah, serangan balasan Iran ini seringkali mengenai negara-negara tetangga yang mengklaim netral. Negara-negara ini bersikeras tidak terlibat dalam perang dan tidak mengizinkan wilayahnya digunakan untuk menyerang. Tapi, tampaknya, mereka tetap kena imbas.
Di sisi lain, Iran juga mengincar kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz. Jalur sempit itu adalah urat nadi perdagangan minyak dunia. Dengan mengganggu lalu lintas di sana, Iran seolah ingin menunjukkan bahwa mereka punya cara untuk menggoyang perekonomian global jika ditekan terus-menerus. Situasinya memang rumit, dan belum terlihat ujung pangkalnya.
Artikel Terkait
Trump Izinkan Timnas Iran Tampil di Piala Dunia AS, tapi Ingatkan Ancaman Keselamatan
Miliano Jonathans Dipastikan Absen Hingga Akhir 2026 Akibat Cedera ACL
KPK Beberkan Peran Sentral Stafsus Menag dalam Skema Fee Percepatan Haji
Tabung Gas 3 Kg Jadi Senjata, Warga di Banten Nyaris Tewas Dihajar Gara-Gara Piutang Rp400 Ribu