Ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran membuat harga minyak mentah global meroket. Akibatnya, biaya operasional maskapai pun membengkak. Kenaikan harga tiket pesawat tinggal menunggu waktu, dan itu akan semakin menekan minat orang untuk traveling.
Ketidakpastian geopolitik ini juga mengganggu ekspor produk-produk lokal yang biasa diburu turis, seperti kerajinan tangan atau makanan khas. Durasi konflik akan menentukan seberapa dalam luka ekonominya. Pemerintah disebutkan terus memantau situasi, sambil bersiap menghadapi skenario terburuk.
Sektor Ibadah Juga Terhantam
Konflik ini juga memberikan pukulan telak bagi perjalanan umrah. Ratusan ribu jemaah Indonesia tiap bulannya bergantung pada penerbangan yang melintasi kawasan itu. Penutupan ruang udara memaksa pembatalan penerbangan ke Arab Saudi.
Menurut lembaga kajian Prasasti Center for Policy Studies, jika pembatasan ini berlangsung lama, dampaknya akan merembet ke pertumbuhan ekonomi domestik. Ekosistem ekonomi di sektor umrah itu sangat besar.
Calon jemaah kini dihimbau untuk menunda keberangkatan. Sementara yang sudah di Tanah Suci pun kesulitan pulang karena penerbangannya dibatalkan. Kerugian materiil bagi jemaah dan penyelenggara perjalanan ibadah jelas ada. Tapi dampak psikologis dan kecemasan di masyarakat juga tak bisa dianggap enteng.
Langkah Pemerintah: Reposisi Pasar dan Cari Hub Alternatif
Menghadapi situasi ini, pemerintah lewat kementerian terkait mulai bergerak. Strategi utamanya adalah reposisi pasar. Alih-alih fokus ke Eropa yang terganggu, promosi kini diperkuat di kawasan Asia dan Pasifik.
Langkah ini masuk akal. Data tahun 2025 menunjukkan, lima negara penyumbang wisatawan terbesar ke Indonesia justru dari Asia-Pasifik: Malaysia, Australia, Singapura, China, dan Timor Leste. Pasar seperti India, Jepang, dan Korea Selatan juga jadi target andalan di tengah krisis.
Di sisi konektivitas, gangguan operasional penerbangan disebutkan mulai berkurang. Banyak turis yang beradaptasi dengan rute alternatif via Malaysia, Singapura, atau Hong Kong. Pemerintah juga berkoordinasi dengan maskapai untuk menangani penumpang yang terdampak pembatalan. Untuk mengamankan pasokan energi, Pertamina dikabarkan telah menjalin kerja sama dengan perusahaan energi AS seperti Chevron dan Exxon, sebagai upaya diversifikasi pasokan minyak dari luar Timur Tengah.
Intinya, konflik Februari 2026 ini jadi pengingat keras betapa rentannya pariwisata terhadap gejolak global. Ketahanan sektor ini ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan kita mendiversifikasi pasar dan membangun konektivitas yang tidak tergantung pada satu kawasan saja. Kolaborasi erat antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat menjadi kunci untuk bisa bertahan dan bangkit kembali.
Hendra Manurung.
Dosen Prodi Magister Diplomasi Pertahanan, Fakultas Strategi Pertahanan, Universitas Pertahanan Republik Indonesia (UNHAN RI).
Artikel Terkait
Operasi Ketupat Musi 2026 Dimulai, 2.361 Personel Amankan Arus Mudik Sumsel
Petisi 1 Juta Tanda Tangan Desak Heeseung Tetap di ENHYPEN Meski Fokus Solo
Kapolri Tinjau Persiapan Pengamanan Mudik 2026, Soroti Aturan Lalin dan Stabilitas Harga
Kapolri Tekankan Soliditas dalam Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat 2026 di Monas