"Investasi minoritas di beberapa perusahaan ini yang mungkin nilainya tidak terlalu meaningful juga bagi kita," tambahnya.
Bagian dari Agenda Besar Transformasi
Semua langkah perampingan ini bukan tanpa alasan. Ini adalah bagian sentral dari agenda transformasi Telkom untuk beberapa tahun ke depan. Mereka ingin fokus bisnis utama makin kuat, pengelolaan aset lebih baik, dan portofolio bisnisnya tertata rapi. Harapannya, nilai tambah yang tercipta bisa jauh lebih besar, dan tata kelola perusahaan secara keseluruhan meningkat kualitasnya.
Secara garis besar, transformasi ini mengusung empat pilar utama untuk mencapai target TLKM 30 di tahun 2030. Salah satu pilar kuncinya adalah 'streamlining' istilah keren untuk perampingan struktur grup ini. Caranya? Dengan menggabungkan unit bisnis yang tumpang tindih, melepas bisnis yang tidak terkait inti, dan fokus kembali ke jantung bisnis Telkom. Hasilnya, struktur grup diharapkan jadi lebih efisien dan lincah.
Di sisi lain, peran Telkom sebagai induk usaha strategis atau strategic holding akan diperkuat. Sementara urusan operasional harian akan diserahkan kepada perusahaan operasional di masing-masing lini usaha.
Ke depan, mesin pertumbuhan Grup Telkom akan ditopang oleh empat pilar bisnis: B2C Business, B2B IT Services, Digital Infrastructure, dan International Business. Rencana besar ini jelas akan mengubah peta bisnis mereka dalam beberapa tahun mendatang.
Artikel Terkait
Dua Turis Tewas Tersapu Banjir di Queensland, Australia
Polda Sumsel dan Pertamina Perketat Pengamanan Distribusi BBM Jelang Mudik Lebaran
Konflik Timur Tengah 2026 Pukul Pariwisata Indonesia, Penerbangan dan Kunjungan Wisatawan Anjlok
DKI Jakarta Gelar Imunisasi Kejar Serentak Campak di Maret 2026